Tampilkan postingan dengan label potensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label potensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

Menangkap Peluang di Sekitar Kopi



Kita tahu bahwa kopi adalah komoditas dunia. Bahkan, boleh dikata, dahulu Belanda jauh-jauh datang ke Indonesia juga karena mencari rempah-rempah, dan juga kopi. Hingga kini pun Indonesia masih tercatat di peringkat ketiga pemasok kopi dunia setelah Brasil dan Vietnam. Seperti dilansir Okezone.com, dalam sebuah kesempatan di Nusa Dua, Bali, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Syarief Hasan mengatakan bahwa peluang (Indonesia, Red) untuk bisa menjadi produsen kopi nomor dua di dunia terbuka lebar (24/10/2012).

Prediksi Sang Menteri itu sangat beralasan jika kita melihat potensi yang ada, termasuk kemungkinan untuk terus menggenjot kapasitas produksi kopi luwak, yang merupakan jenis produk kopi termahal di antara berbagai ragam jenis/variasi kopi yang ada selama ini. Lahan kita sangat kondusif untuk intensifikasi maupun ekstensifikasi tanaman kopi. Luwak atau musang, kita juga punya semua jenis pemakan buah yang dapat dijadikan ibarat ”mesin giling” kopi segar. Bahkan, yang namanya binturung, jenis musang terbesar yang mampu menghasilkan kopi luwak (kotor) 10 kg per hari/malam, pun adalah binatang khas/endemik Indonesia (Sumatera).
--Musang Pandan di Pasar Burung Splendid, Malang, tak sampai Rp500 ribu/ekor

Itu semua mempertontonkan peluang yang mesti kita baca. Keluarga BMI yang berdomisili di pedesaan, jika mau, sangat berpeluang menjadi produsen kopi luwak. Mestinya pula, ini adalah peluang kombinasi antara bertani (kopi) dan beternak (luwak) yang sangat prospektif, sangat menjanjikan. Kopi luwak itu nyaris seperti emas, mata uangnya dolar, lho! Bahkan, sebuah café di sebuh mall di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dan sangat mungkin juga di beberapa tempat lain, memasang tulisan tarif khusus untuk secangkir kopi luwak dengan ’$’ dan bukannya ’Rp’ –padahal Malioboro, Yogyakarta, itu masih berada di wilayah Republik Indonesia.

Apakah Anda masih kurang yakin mengenai prospek bisnis ini? Jika Anda sudah mulai tertarik, tidak usah keluar modal terlalu besar (menurut keyakinan Anda itu). Ini bisa dimulai dengan memelihara seekor atau dua ekor musang, sambil menanam pisang dan memelihara lele atau ayam, karena telor/daging ayam dan lele termasuk makanan yang sangat disukai luwak selain buah-buahan. Dengan demikian, setelah keluar tidak terlalu banyak biaya untuk pembuatan kandang luwak, Anda tidak akan banyak keluar biaya untuk perawatannya (biaya pakan), terutama pada saat-saat di luar musim panen kopi. Ketika musim kopi tiba, jatah pakan pun secara bisnis akan sangat berkurang, karena setelah siang hari diberi pakan selingan berupa buah pisang, pepaya, dan sekali atau dua kali dalam sepekan diberi ayam atau lele rebus, pakan utama musang adalah buah kopi segar yang masak pohon, yang sekaligus adalah bahan mentah untuk menghasilkan kopi luwak: komoditas andalan Anda.

Nah, semoga sekarang tidak ada lagi pertanyaan di benak Anda, yang kira-kira berbunyi begini, ”Nanti kalau sudah pulang ke Indonesia terus, saya ini mau buka usaha apa, ya?” Semoga!*





Rabu, 18 Agustus 2010

Petani Cengkih kembali Bergairah

Cengkih mengalami kejayaan, terutama pada paroh kedua tahun 70-an. Trenggalek yang sejak lama dikenal sebagai wilayah tandus dan daerah termiskin di Jawa Timur pun mengukir mimpi bersama tumbuhnya tanaman cengkih yang ketika itu dipopulerkan oleh sang bupati, Soetran. Dipandang berjasa sebagai pemimpin yang memberikan banyak harapan bagi masyarakatnya, nama Soetran pun diabadikan sebagai nama jalan, di salah satu sudut ibukota Kabupaten yang di sisi Selatan-nya langsung berbatasan dengan Australia itu. Dalam perjalanan waktu, orang menyadari, termasuk Pemerintah, bahwa berkembangnya pertanian cengkih yang bahkan sempat dijuluki sebagai emas hijau itu tak juga meningkatkan kesejahteraan para petaninya secara setimpal. Artinya, bahwa pendapatan petani meningkat, memang demikian. Tetapi, ternyuata petani menjadi bulan-bulanan tengkulak besar.

Maka, pemerintah membentuk sebuah badan bernama BPPC (Badan Penyangga Perdagangan Cengkih) untuk mengurusi tataniaga cengkih, itu pada paroh kedua tahun 80-an.

Apa yang terjadi kemudian ternyata semakin jauh dari harapan. Para pelaku perdagangan (tengkulak besar) ternyata tetap memainkan peran. BPPC ternyata kemudian hanya menjadi lembaga stempel untuk memungut sebagian keringat para petani. BPPC sempat menjadi besar, dan petani makin menjerit.

Lalu datanglah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan ndilalah namanya mirip BPPC, yakni BPBC (Bakteri Penggerek Batang Cengkih). Banyak tanaman cengkih ranggas dan kemudian ditebang untuk dijadikan kayu bakar. Sawah-sawah yang semula disulap menjadi kebun cengkih pun dikembalikan menjadi sawah.

Kini, BPPC sudah dibubarkan. Ada sebagian petani yang masih trauma, ada yang bangkit lagi dengan kembali menanam cengkih. Pasar pun kembali menggeliat.


Trenggalek

Secara geografis, wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, memang terdiri atas pegunungan dan perbukitan kapur. Mayoritas penduduknya adalah petani. Tanaman pokok yang selalu setia ditanam terutama diderah pegunungan adalah ketela pohon alias singkong sebagai bahan pangan pokok. Hal seperti itu bertahan hingga sekarang.

Trenggalek pun dikenal dengan julukan penghasil gaplek (ketela pohon yang dikeringkan sebagai bahan baku untuk membuat nasi tiwul).

Pada era ’60-an hampir seluruh wilayah Trenggalek yang berupa lahan kering ditanami ketela. Baru ada perubahan pada tahun ’70-an semasa Soetran menjabat Bupati Trenggalek, melakukan ujicoba dengan menggerakkan masyarakat petani untuk menanam cengkih.

Ketika itu petani terutama di pedesaan diberi bantuan bibit cengkih secara gratis. Setelah cengkih ditanam dan dilakukan perawatan dengan sungguh sungguh beberapa tahun kemudian petani cengkih bisa merasakan hasil yang cukup menggembirakan.

Dengan adanya cengkih ternyata masyarakat Trenggalek terutama dipedesaan mengalami peningkatan ekonomi yang cukup lumayan . Hal itu dapat dilihat yang dulunya para petani hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai tamat SD, dari hasil panen cengkihnya mereka bisa menyekolahkan sampai SMA bahkan banyak yang sampai perguruan tinggi.

Adapun daerah yang paling banyak menghasilkan cengkih saat itu ada beberapa Kecamatan yaitu Dongko, Panggul, Pule, dan Munjungan. Wilayah ini merupakan lumbung cengkih di daerah Trenggalek.

Sayangnya pada tahun ’80-an setelah pemerintah membetuk badan yang mengurusi tentang tata niaga cengkih yaitu BPPC yang tujuannya semula untuk menolong petani dari perubahan harga cengkih yang fluktuatif ternyata ujung ujungya justru badan ini yang menyengsarakan petani.

Petani cengkih mengalam frustasi. Karena monopoli yang dilakukan oleh BPPC lewat KUD yang melaksanakan kebijakan untuk penjualan hasil cengkih petani harus ke KUD itupun dengan harga yang ditekan semurah-murahnya. Selain itu petani tidak bisa menjual sendiri hasil taninya ke wilayah lain bila ada pastilah ditangkap.

Alhasil petani seperti dipasung, dan setelah dihitung-hitung saat itu hasil dari penjualan dengan upah petiknya yang harus dikeluarkan sudah tidak seimbang. Makanya banyak petani yang membiarkan bunga cengkihnya tidak dipetik bahkan tidak sedikit yang ditebang untuk diganti tanaman lain.

Baru setelah terjadinya reformasi dan bubarnya BPPC, para petani cengkih mulai bangkit kembali, karena tataniaganya tidak dimonopoli lagi oleh perorangan ataupun pemerintah. Kembali pada hukum pasar. Yaitu bila barangnya banyak maka harga akan cenderung turun namun bila cengkih di pasaran tidak banyak maka harga akan melambung naik.

Musim Panen

Saat ini petani di Trenggalek ternyata mulai kreatif dalam hal bercocok tanam. Hal ini bisa dilihat ladang-ladang cengkih yang ada tidak lagi melulu tanaman cengkih saja, namun di sela-sela cengkih ternyata banyak ditanami coklat, pisang, nilam yang juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Selain itu para petani mulai berpikir bila nantinya cengkih mengalami harga jatuh maka dari hasil tanaman selanya mereka masih memperoleh pendapatan, yang cukup lumayan.

Saat ini petani cengkih mulai panen raya. Musim panen setiap tahun sekali biayanya mulai bulan juni sampai agustus. Dengan harga cengkih basah di pasaran Rp 15.000 per kilogram, sedangkan cengkih kering mencapai Rp 50.000. Petani seperti mengalami kembali kejayaan masa lalu.

Ternyata dengan harga yang cukup bagus ekonomi masyarakat mulai menggeliat lagi tidak saja petani yang untung, para buruh tani juga kebagian rezeki, yang semula upah buruh tani Rp 20 ribu/hari maka sebagai pemetik buah cengkih dapat memperoleh upah Rp 30 sampai 35 ribu/hari.

Tengkulak Kecil

Tak lupa para pedagangnya juga ikut berlomba untuk meperoleh laba. Bila modalnya besar maka ia akan berperan sebagai pengepul cengkih kering. Sedangkan yang hanya memiliki modal pas-pasan maka mereka biasanya membeli cengkih basah untuk dikeringkan, kemudian setelah kering baru dijual ke pedagang pengepul.

Biasanya mereka memperoleh laba dari selisih harga dan berat dari cengkih basah menjadi cengkih kering. Untuk menghasilkan 1 kg cengkih kering biasanya membutuhkan 3 kg cengkih basah, bahkan bila kualitas cengkihnya bagus 2,7 kg sudah bisa menghasilkan 1 kg cengkih kering.

Tiyuk yang tekun membeli dari petani, mengeringkan dan kemudian menjualnya dalam kondisi kering, mengaku bisa meraup untung Rp 30.000 - Rp 50.000/hari.

”Setiap musim cengkih saya selalu membeli basah untuk saya keringkan. Bila cuacanya cukup bagus, panasnya dari pagi sampai sore tiga hari cengkih sudah siap dijual, sehingga ngirit tenaga dan kualitas cengkih jadi bagus hingga untungnya cukup lumayan. Bahkan untuk memperoleh untung yang banyak sebenarnya tinggal berapa modal kita dan seberapa banyak kemampuan untuk mengeringkan,” tutur Tiyuk.

Daun Kering

Selain itu cengkih ternyata tidak hanya bunganya saja yang laku dijual. Daunnya yang sudah keringpun laku untuk dijual dengan harga Rp 800 sampai Rp 1000 perkilonya. Daun kering ini disuling untuk diambil minyaknya sebagai bahan baku obat-obatan.

Biarpun panennya setahun sekali bunga cengkih bisa menyejahterakan ekonomi petaninya. Hal ini terlihat dimasyarakatnya, setiap panen tiba mereka tidak lagi binggung untuk biaya sekolah anak-anaknya, bahkan ada yang seperti berlomba membangun dan memperbaiki rumahnya dan banyak juga yang membeli kendaraan, terutama roda dua.

Tapi, yang jelas geliat ekonomi ini sangat kentara bila panen raya tiba, pasar-pasar, toko-toko selalu dijubeli pembeli.[pur]

Selasa, 15 September 2009

Mengangkat Ketela dari ’’Kelas Dua’’

Sebelum tahun 1970-an ketela merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah kering. Tanaman ini dikenal mudah dibudidayakan karena tidak memerlukan perawatan dan jenis lahan khusus. Jika dilihat dari kandungan energinya, ketela memang lebih rendah (338 kal/100 gr) dibanding beras (360 gr/100 gr). Namun ketela memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi (81,3 gr/100 gr) dibanding beras (79,9 gr/100 gr). Sementara kadungan lemak kedua bahan tersebut sama.

Dengan kandungan gizi seperti itu, sebenarnya ketela tidaklah terlalu berbeda dengan beras. Artinya nasi tiwul seperti yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di daerah kering, tak serta-merta dapat dinilai tidak memenuhi kebutuhan gizi. ’’Kalau lauknya bagus, itu sudah sama dengan nasi (beras)’’, kata Khudori.

Di luar makanan pokok, ketela selama ini dikenal sebagai bahan baku tepung tapioka. Belakangan ketika krisis energi merebak, ketela menjadi salah satu bahan energi alternatif yang paling dicari. Di luar itu ketela ternyata memiliki kemanfaatan dalam dunia industri yang demikian besar. Sektor industri non-pangan membutuhkan ketela sebagai bahan dasar untuk pasta gigi, kosmetik, pemutih kertas, serta campuran kertas. Sementara industri pangan menjadikan ketela sebagai bahan gula rendah kalori, gula-gula, susu bubuk, maupun pakan ternak. Belum lagi berbagai jenis makanan baik yang diproduksi oleh industri besar maupun rumahan yang berbahan ketela maupun turunannya.

Beragamnya kebutuhan industri terhadap ketela semestinya menjadikan nilai jual komoditas tersebut meningkat. Ternyata tidak demikian. Ketela tetap menjadi koditas yang terpuruk harganya, sehingga petani hanya membudidayakannya sebagai sambilan saja. Jika digarap secara serius, ketela sebenarnya dapat menjadi jawaban terhadap ketergantungan tepung terigu yang selama ini hampir 100% diimpor oleh pemerintah Indonesia.

Dalam bentuk tepung, ketela lebih fleksibel. Selain dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan, tepung ketela juga akan lebih mudah disimpan dan tahan lama. Khudori menambahkan, pemasyarakatan ketela sebagai bahan pangan andalan ini juga sangat tergantung terhadap kemauan politik pemerintah. Ia mencontohkan bagaimana tepung terigu, membutuhkan proses dan waktu cukup lama hingga menjadi bahan pangan yang dibutuhkan banyak orang di Indonesia seperti saat ini. Bahkan sebagian telah menjadikan bahan pangan yang tak dapat tumbuh dengan baik di iklim tropis seperti Indonesia ini, sebagai bahan pangan utama.

Jika diupayakan dengan sungguh-sungguh, tentunya ketela mampu menjadi bahan alternatif terigu. Sehingga pemerintah tak perlu mengimpor lagi dan anggaran negara dapat dihemat. Syaratnya bahan itu harus tersedia secara cukup, ada di setiap tempat, dan bisa didapatkan setiap saat. Itu juga yang menjadi kunci keberhasilan kampanye terigu nasional. [sta]

Apa yang Salah dengan Ketela?

Ketela pohon atau kasava merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang cukup dikenal dan mudah didapatkan di negeri kita. Tanaman ini dapat hidup di berbagai tempat, bahkan di daerah kering sekalipun. Itulah sebabnya di kawasan pegunungan kapur dimana air sulit didapat, ketela pohon menjadi tanaman yang banyak dibudidayakan.

Trenggalek, sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang 70 persen wilayahnya terdiri dari pegunungan, ketela pohon adalah komoditas yang sangat dikenal. Bagi sebagian besar masyarakat Trenggalek yang tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup dari sektor pertanian, ketela pohon menjadi makanan andalan. Dapat dikatakan, para pegawai dan pengusaha saja yang dalam kesehariannya mengkonsumsi nasi beras. Sedangkan para petani, sehari-hari lebih akrab dengan nasi tiwul (dari bahan ketela pohon).

Ini disebabkan kondisi alam di daerah tersebut yang bergunung-gunung tidak memungkinkan padi tumbuh dengan baik. Hanya pada puncak musim penghujan saja padi dibudidayakan di sini. Itu pun tidak di semua lahan. Sehingga padi yang mereka hasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun.

Paeran, warga Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek menuturkan, nasi tiwul merupakan makanan pokok bagi keluarganya dan sebagian besar keluarga lain di desanya. Sebab ketela pohon lebih mudah didapatkan di tempat tinggalnya. Sementara untuk dapat mengkonsumsi nasi beras, ia harus menukarkan terlebih dahulu hasil bumi yang dimiliki. ’’Lima puluh kilo ketela, mendapat tiga kilo beras,’’ katanya.

Itu pun jika harga beras Rp 5.000 per kilogram, sebab setiap kilogram ketela pohon hanya dihargai Rp 300 rupiah dari para petani. Saat harga rata-rata beras mencapai Rp 5.500 per kilonya seperti saat ini, harga ketela ternyata tak juga beranjak. Sehingga nilai tukar ketela terhadap beras semakin rendah.

Kondisi ini mencerminkan bahwa petani tidak memiliki posisi tawar terhadap harga komoditas yang mereka hasilkan. Terlebih komoditas tersebut selama ini mendapat label sebagai komoditas ’pinggiran’. Tak hanya di daerah perkotaan atau daerah penghasil beras saja ketela dianggap makanan kelas dua. Masyarakat yang tinggal di daerah kering dimana padi tidak dimungkinkan tumbuh dengan baik pun memiliki perasaan serupa. Tak heran jika sering dijumpai masyarakat di daerah ini merasa malu mengakui nasi tiwul sebagai makanan pokok sehari-hari.

Pengamat sosial ekonomi pertanian, Khudori, mengemukakan bahwa hal itu disebabkan oleh rekayasa negara lewat pembangunan pertanian dan adopsi Revolusi Hijau. Akibatnya pola makan masyarakat Indonesia yang unik dan beragam, tergantung dari potensi alam masing-masing, secara perlahan bergeser ke satu jenis pangan: beras.

Pergeseran dari berbagai jenis bahan pangan menjadi satu jenis saja yaitu beras pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah. Salah satunya kerawanan pangan yang berkali-kali terjadi di negeri kita. Permasalahan ini muncul karena saat ini hampir 100% masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras. Sementara tidak di semua daerah padi cocok untuk dibudidayakan.

Lebih jauh Khudori menandaskan, perubahan ini merupakan warisan Orde Baru yang menyandera pemerintah yang tengah berkuasa. Warisan tersebut memaksa pemerintah selalu siap menyediakan beras dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun, di seluruh pelosok negeri dengan harga yang terjangkau oleh semua orang. Termasuk orang miskin sekali pun. Ini memunculkan berbagai persoalan ikutan. Ketika harga beras melonjak, pemerintah dianggap tak mampu menstabilkan harga kebutuhan pangan pokok. Sebaliknya jika harga beras anjlok, pemerintah dinilai tidak memiliki keberpihakan terhadap petani. Keduanya sama-sama berpotensi mengancam kestabilan negeri ini. [sta]

Minggu, 05 April 2009

NGLARAN

Nglaran adalah sebuah dusun di wilayah Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Pedusunan yang terletak 45 kilometer arah barat daya Kota Trenggalek ini dihuni oleh kurang lebih 1600 jiwa. Mereka tersebar di 10 RT dalam 11 satuan pemukiman yaitu Nglaran, Ledokan, Poko, Gedhangkluthuk, Judelan, Donosari, Tumpak Salam, Gempol, Temon, Tumpak Kangkung, dan Menggeng.

Sebagai sebuah dusun yang terletak di jajaran pegunungan kapur, Nglaran memiliki berbagai keunikan yang tidak ditemukan di dusun lain di wilayah dataran rendah maupun dataran tinggi di kawasan gunung berapi. Keunikan dan daya tarik karst, seperti gua, mata air bawah tanah, sungai buta, permukaan tanah yang tidak rata, dapat dijumpai tersebar di dusun ini. Tentu daya tarik tersebut juga berpadu dengan segala ciri lain yaitu kelangkaan air, baik air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari maupun air untuk irigasi.

Tidak ada dokumen tertulis mengenai kesejarahan dusun ini. Tokoh masyarakat setempat juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana awal mula berdirinya Nglaran. Namun tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber air bersih seperti masonan dapat sedikit memberi petunjuk bagaimana pemukiman mulai berkembang di Nglaran.

Seperti halnya sejarah peradaban manusia pada umumnya, keberadaan sumber air menjadi penanda adanya kehidupan di sekitarnya. Dalam kebudayaan Nglaran, kelompok pengguna air (mason) kemudian menjadi ikatan sosial-emosional warga, baik yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber air maupun dalam hal lain. Ikatan berdasar mason itu tampak dari ritual warga yang diselenggarakan berdasarkan masonan, seperti bersih desa, atau ritual lainnya.

Seperti desa-desa lain di Trenggalek, cengkih merupakan komoditas utama dari dusun ini pada Era 1980-an. Tingginya harga cengkih serta pertumbuhannya yang cukup bagus di daerah ini menjadikan lahan pertanian warga kemudian juga dialihfungsikan menjadi lahan cengkih.

Namun pada tahun 1990-an, kejayaan ini mulai meredup. Pohon yang mulai menua, teknik pemupukan yang keliru, serta menyebarnya wabah bakteri pembuluh kayu menjadikan tanaman cengkih tidak produktif lagi. Bahkan banyak di antaranya yang mati. Kini kejayaan cengkih di dusun ini tinggal sisa-sisanya saja. Meski sebagian besar masyarakat Nglaran masih memiliki pohon cengkih, tetapi produksinya sudah merosot jauh.

Dampak nyata dari merosotnya produksi andalan ini adalah menurunnya kesejahteraan warga. Terutama para petaninya. Terlebih hingga saat ini belum ditemukan komoditas pertanian lain yang dapat menggantikan posisi cengkih sebagai komoditas pertanian andalan.

Kondisi tersebut pada akhirnya memicu tingginya jumlah warga yang keluar dari desanya untuk mencari pekerjaan di kota. Surabaya, Malang, Tulungagung, bahkan kota-kota di Kalimantan menjadi tujuan kerja warga Nglaran. Tenaga kerja ini sebagian besar terserap di sektor industri, konstruksi, dan perkebunan. Sementara tenaga kerja perempuannya terlibat di sektor rumah tangga.

Terbatasnya pilihan sektor pekerjaan warga Nglaran tersebut juga disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan warga. Rata-rata anak muda dusun ini hanya menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah pertama. Sebagian kecil saja yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas, dan beberapa orang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Persoalan besar lain yang dihadapi oleh masyarakat Nglaran adalah keterbatasan air bersih, terutama pada musim kemarau. Dari sebelas mata air yang ada, saat ini tinggal lima buah mata air yang dapat diandalkan warga pada musim kemarau. Itu pun dengan debit yang sangat kecil, sehingga tak jarang warga harus mengantri hingga berjam-jam untuk mendapatkannya. [sa]

Minggu, 15 Maret 2009

Nglaran Menuju Perubahan

Secara umum pemuda Nglaran tak berbeda dengan pemuda di tempat lainnya. Mereka senang berkumpul dengan sesamanya di suatu tempat, bermain gitar, mendengarkan musik keras-keras hingga jauh malam. Tentu saja kegiatan-kegiatan demikian kemudian memunculkan berbagai prasangka, utamanya dari kaum tua. Para muda dianggap sebagai biang keributan dan sumber keonaran.

selanjutnya...

Kamis, 19 Februari 2009

Tanam Bambu, Hasilkan Rebung Rasa Ayam


Bila Anda memiliki lahan pertanian yang kosong ada baiknya untuk membudidayakan tanaman bambu. Tidak memerlukan perawatan njlimet sebagaimana tanaman produksi lainnya, dan hasilnya sudah jelas. Apalagi jenis bambu tertentu, selain bisa dijual batangnya yang sudah tua, tunas [rebung]-nya pun banyak yang menyukainya untuk disayur.

Budidaya bambu rebung dapat dilakukan baik didataran rendah maupun dataran tinggi. Enaknya lagi, bambu dapat tumbuh dan berkembang pada lahan tandus sekalipun. Namun, untuk memperoleh pertumbuhan yang maksimal dan kualitas rebung yang bagus sebaiknya ditanam di lokasi yang subur .

Dari berbagai macam jenis bambu ternyata hanya beberapa jenis saja yang dapat diambil rebungnya sebagai sayur, yaitu Bambu Petung, Ampel, Wulung, dan satu lagi Bambu Ayam [semua itu adalah nama-nama yang popular di Desa Cakul, khususnya dusun Nglaran).

Bambu Ayam merupakan jenis bambu yang penghasil rebung dengan kualitas rasa paling bagus. Bahkan untuk memasaknya pun hanya perlu dicuci sampai bersih, diiris-iris, dan kemudian dimasak bersama bumbu. Tidak perlu diebosi [direbus sampai mendidih dan dibuang airnya].

Bambu ayam memiliki rumpun yang rapat dan pertumbuhannya termasuk cepat, dengan ketinggian 25 meter. Warna buluhnya hijau segar. Panjang ruas 30 - 50 sentimeter, dengan ketebalan 1- 2 sentimeter.

Jenis ini bisa tumbuh di dataran rendah dan yang paling bagus pada daerah yang memiliki ketinggian 600-1000 di atas permukaan laut. Selain diambil rebungnya bambu ini juga baik untuk bahan baku kerajianan rakyat.

Rebung yang dihasilkan dari bambu ini disebut sebut yang paling enak, Rasanya memiliki aroma seperti daging ayam. Daging rebungnya hanya sedikit memiliki serat, cara memasaknya pun sangat mudah. Setelah rebung dikupas dan diiris sesuai selera langsung bisa dimasak seperti sayur lainnya. Tidak seperti rebung dari jenis lain yang harus di rebus bahkan di rendam lebih dahulu untuk menghilangkan rasa pahitnya.

Rebung Bambu Ayam ini sangat cocok bila di buat sop atau pun model sayur kering. Bila dibuat sup aromanya menyerupai sup ayam. Sedangkan untuk sayur kering diperlukan proses pengeringan lebih dulu. Rebung yang masih segar diiris lalu dikeringkan terlebih dahulu dengan cara di jemur di bawah terik matahari. Setelah kering dengan ditandai perubahan warna menjadi hitam maka rebung siap di masak.

Rasa masakan dari rebung yang telah di keringkan ini tidak lagi memiliki rasa dan aroma seperti ayam lagi namun rasa dan aromanya berubah menyerupai rasa jamur, hanya sedikit yang membedakanya yaitu rasa serat halusnya. Bahkan bagi yang belum pernah merasakan rebung ini akan sulit membedakan antara rasa rebung dengan rasa jamur. [PUR]

Catatan: Hadiri Festival Desa dan dapatkan bibit ’bambu ayam’ yang bisa diolah jadi…. mak nyus ini.

Senin, 19 Januari 2009

Keluarga Sapari: Hidup dari Seni [4]


Bakat yang Menurun ke Anak

Buah jatuh tak bakal jauh daripohonnya. Demikianlah bunyi pepatahnya. Dan itulah yang terjadi pada keluarga Sapari. Untuk diketahui, kakek Sapari adalah seorang dhalang wayang kulit juga. Nah, sekarang, darah seni itu pun mengalir pada anak tunggal Sapari-Suparti, yaitu Harwanto.


’’Ketika saya masih kelas lima SD saya sudah diajak ayah untuk tanggapan. Ketika itu saya mengantikan ayah untuk memegang kendhang, dan kebetulan waranggana-nya ibu saya sendiri,’’ tutur Harwanto.

’’Sampai saat ini gamelan yang betul-betul saya kuasai adalah kendhang dan itu pun khusus kendhang tayub. Jadi, bila rombongan bapak mendapatkan tanggapan tayub, pengendhang-nya pasti saya, baik ibu saya ikut sebagai waranggana atau pun tidak,’’ lanjutnya.

Selain sebagai penabuh kendhang, ia masih juga mengawasi Sound sytemnya, biarpun sudah ada karyawan yang menjaganya. Karena enak tidaknya gamelan yang dimainkan sangat dipengaruhi oleh setelan sound systemnya.

Saat ini Har, memiliki 2 setel perangkat sound system yang dirakitannya sendiri. Kualitas suara yang dihasilkan cukup bagus. Itulah modal dasar untuk menghadapi persaingan yang makin ketat.

Untuk menunjang kegemarannya utak-atik perangkat sound system itu, Harwanto pun membuka toko elektronik yang menyediakan juga peralatan sound system.

’’Sejak Tahun 2000 sehabis saya menikah saya langsung buka Toko awalnya hanya sebatas menjual barang-barang kebutuhan poko saja namun setelah saya pikir mengapa saya tidak jualan peralatan elektronik juga”, tuturnya.

Hasil dari tokonya selama ini diurusi penuh oleh istrinya. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya berjaga-jaga, bila pendapatan dari job tanggapan-nya sepi maka ia masih memiliki sumber pendapatan lain.

Istrinya sendiri juga sudah menyadari bila pekerjaan suaminya yang jelas banyak godaan. ’’Dari keluarga atau istri tidak masalah, karena sejak awal memang telah saya beri pengertian bahwa pekerjaan saya ini memang rawan godaan dan terkadang bila ada tanggapan terus-menerus pernah beberapa hari saya tidak pulang. Godaan untuk minuman (minuman keras, Red) dan perempuan, tinggal kita saja, kuat imannya atau tidak,’’ tutur Har.

Berkenaan dengan usaha ayahnya, Har bilang, ’’Bapak itu kadang telat mengikuti perkembangan, sehingga sering saya yang menangani. Contohnya, apa saat ini jumlah meja kursi sudah memadai, bapak sering tidak mengerti. Karena kebanyakan yang di lapangan saya, dan lagian bapak saya itu ada tanggapan atau tidak ia tetap menekuni pertaniannya, kalau sudah gitu ia sering lalai pada usaha yang telah lama dirintisnya,’’ tutur Harwanto.

Krtika Peduli bertanya berapa sesungguhnya angka rata-rata penghasilan mereka per bulan dari berbagai jenis usaha yang berkaitan dengan keperluan orang hajatan itu, Sapari dan sang anak seperti sudah sepakat hanya menjawabnya dengan senyuman. [pur]

Keluarga Sapari: Hidup dari Seni [3]


Jeli Menghadapi Persaingan

Selama menjalani kehidupan berkesenian Sapari banyak mengalami pasang surut, apa lagi dengan munculnya dhalang-dhalang muda yang berpotensi dan masyarakat juga mengalami pergeseran selera, maka praktis job yang diterima semakin turun dratis.


Untungnya saat ia mulai kehilangan pasar justru istrinya yang kebanjiran job. Masyarakat sendiri tampaknya lebih senang nanggab Tayub daripada wayang kulit, selain itu Tayub memiliki penggemar mulai kalangan tua maupun muda, sedangkan Wayang kulit bila dhalangnya tidak termasuk dhalang yang telah ternama (kondang) maka penontonnya-pun sedikit.

Untuk menyiasati kondisi pasar tersebut, ia melakukan terobosan dengan tanggapan model paket.

’’Saya sebetulnya punya rencana itu sudah sejak lama, sebelum tahun 2000, tapi setelah lama nyelengi sedikit-sedikit baru pada Tahun 2003 niat untuk membuat model paket tersebut terlaksana,’’ jelasnya.

’’Model paket yang saya layani adalah bila orang mau punya hajat, maka saya siap menyediakan mulai, terop-nya, meja kursi, peralatan makan, lampu dan sound system, gamelan dan penabuhnya, waranggana satu orang serta dhalang-nya saya sendiri, jadi yang punya hajat praktis tinggal menyiapkan tempatnya,’’ lanjut Sapari menerangkan.

Pemasangan semua peralatan tersebut juga dilakukan oleh orang-orang (karyawan Sapari). Menurut penuturannya, harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu sekitar Rp 3,5 juta itu tahun 2003, saat ini harga tersebut sudah naik menjadi Rp 5 juta.

Harga tersebut bisa sedikit bertambah bila jarak antara rumahnya dengan rumah yang punya hajat jauh. Maksudnya, sekadar tambahan untuk ongkos transpotasinya. Melihat harga yang dipatok tersebut memang kelihatan bila yang dibidik adalah kalangan masyarakat kecil sampai sedang atau klas menengah ke bawah.

Setelah melakukan terobosan tersebut ternyata job yang diterima meningkat pesat bahkan yang selama ini ndhalang-nya sempat berhenti saat ini mulai aktif lagi karena adanya permintaan yang punya hajat.

’’Ya, alhamdulillah, sejak paketan itu, saya mulai sering ndhalang lagi, karena banyak yang minta sehabis Tayub selesai minta diteruskan dengan wayang kulit” ujarnya.

Saat ditanya seberapa sering setiap tahunnya (setiap musim hajatan) ia memperoleh job ia mengatakan harus buka buku.

’’Yang jelas setiap tahunnya tidak sama. Sampai saat ini yang saya ingat betul yaitu pada Tahun 2006 dalam satu musim rombongan saya mendapat job (tanggapan) sebanyak 80 kali. Tapi itu tidak semua dalam satu paket, kadang hanya Terop, meja kursi,dan sound systemnya saja. Tapi, yang sering dalam betuk satu paket,’’ tandasnya.

Masih menurut penuturan Sapari saat ini saja, atau untuk Tahun 2009 ia sudah mendapat pesanan sebanyak 25 kali, dan itu bisa terus bertambah.

Dari seringnya memperoleh job tersebut yang jelas pendapatan Sapari bersama rombongannya semakin besar. Itu dapat dilihat dari perlengkapan yang dimiliki saat ini termasuk sudah lengkap.

Ia menjelaskan saat ini terop yang dimiliki sebanyak 10 buah dengan rincian 6 plengkung dan 4 buah biasa. Meja kursi hampir 700 buah belum lagi peralatan makannya. Perangkat gamelan 3 setel bahkan yang satu baru saja beli seharga Rp 50 juta, untuk angkutannya ia juga sudah memiliki 1 buah pick up.

Sementara itu mengenai perlengkapan Sound systemnya ia percayakan pada Harwanto (27) anak tunggalnya yang memang cukup mumpuni dalam urusan tersebut. Selain itu, kelihatannya Har --begitu biasa dipanggil, juga ikut secara langsung mengurusi usaha yang telah lama dirintis ayahnya.

Usaha yang ditekuni Sapari ini ternyata juga ikut membantu memberi pekerjaan pada orang lain khususnya orang-orang yang ikut dalam rombongannya. Jumlah anggotanya saat ini mencapai 21 orang, belum termasuk dia sendiri, istri, dan anaknya. [pur]

Keluarga Sapari: Hidup dari Seni [2]


Suparti (Istri Sapari): Bertahan dengan Suara

Sebelum menikah dengan Sapari sebenarnya Suparti (42) sudah menjadi waranggana/pesinden. Ia belajar di Desa Ngrandu, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek yang memang ada semacam sanggar yang telah banyak menghasilkan waranggana.


Sebetulnya bila dilihat dari perawakannya ia tergolong kecil. Namun kelebihan utama yang dimiliki adalah suara atau vokal yang cukup bagus. Memang modal utama seorang waranggana adalah suara yang bagus.

’’Untuk menjadi waranggana, pertama mesti punya niat dan senang, kemudian memiliki bakat suara yang cukup bagus, baru kemudian rupa. Sebenarnya, kalau soal wajah, itu bukan syarat utama,’’ tutur Suparti

’’Kalau dihitung saya menjadi waranggana sudah 34 tahun mulai tanggapan sejak tahun 1974 dan sampai sekarang tetap saya jalani. Bahkan, saat ini semakin ramai, modal saya apa … ya suara itu tadi. Memang, kalau masalah rupa dan umur jelas kalah dengan yang masih muda, wong umur saya sudah 42 tahun, namun kalau dari segi suara alhamdulillah saya masih bisa bertahan sampai sekarang,’’ lanjutnya.

Sampai saat ini selain masih menerima job-job tayupan dan mengiringi suaminya bila tanggapan wayang kulit, Suparti juga sedikit-sedikit menularkan ilmunya pada generasi muda yang berminat dalam seni suara kususnya waranggana.

Menurut penuturan nya sudah ada 7 orang, anak didiknya yang sudah jadi dan sudah menerima job tanggapan. Anak didiknya itu 4 orang masih dalam satu wilayah, 2 orang dari lain kecamatan sedangkan yang dari kabupaten lain yaitu dari Ponorogo 1 orang.

Bila ada anak didiknya yang belajar ia memberi waktu 2 kali dalam seminggu sampai jadi atau siap dilepas untuk manggung sendiri, tak jarang pula anak didiknya yang masih tarap belajar ia bawa serta bila dirinya sedang tanggapan. [pur]

Senin, 29 Desember 2008

Nglaran Kita Boleh Dipasang di Mana-mana


[Ini catatan Redaksi Nglaran Kita edisi cetak Nomor 2]

Anda sedang membaca koran gratis, koran tempel, atau sering disebut koran dinding, dan yang sedang And abaca ini adalah koran dinding Nglaran Kita, karya anak-anak bangsa (Indonesia) yang ndilalah tinggal di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timut.



Ini adalah Nglaran Kita edisi kedua. Untuk sementara, baru bisa dipasang di 3 papan/tempat. Jika ada yang tertarik untuk berpartisipasi, memasang Nglaran Kita di sekitar tempat tinggalnya, di mana saja di Dusun Nglaran ini, kami tentu akan bersenang hati. Syaratnya gampang, sediakan papan, boleh triplek, sesek, atau apa saja, dan pilih lokasi yang membuat Nglaran Kita ini aman dari guyuran hujan.

Kalau mau memasang di luar Dusun Nglaran bagaimana? Tentu boleh juga. Tetapi, idealnya, tulisan-tulisan atau berita atau reportase yang sifatnya lokal (lingkup dusun) dibuat sendiri di dusun yang bersangkutan, melibatkan tenaga-tenaga muda setempat yang berkeinginan kuat untuk maju. Susah memulai? Kami, Tim Nglaran Kita siap diajak berbagi pengalaman, walau usia kami pun belum seumur jagung.

REDAKSI

Sumber Air Gondang Rayut


DI LERENG Gunung Bogang (sisi utara) terdapat sebuah sumber air yang (terutama) pada musim kemarau diimpikan sebagian besar warga Dusun Nglaran (RT 26, 27, 28, 28, dan 29). Karena jaraknya yang cukup jauh dari pemukiman warga, biaya jadi kendala untuk menarik air dari Sumber Gondang Rayut tersebut. Warga Dusun Nglaran selalu berharap agar Pemerintah menurunkan dana khusus untuk membawa air dari Gondang Rayut yang berjarak sekitar 3 km dari pemukiman.

Di ujung musim kemarau tahun ini, persisnya Jumat 31 Oktober 2009 kru Nglaran Kita beramai-ramai datang dan mengukur debit sumber Gndang Rayut, dan ketemulah angka 5 liter/menit. Maka, sumber tersebut dalam sehari menghasilkan 7.200 liter. Itungan kasarnya, jika air itu ditarik ke wilayah pemukiman, sekitar 480 keluarga di 5 RT akan mendapatkan bagian masing-masing 15 liter per hari. Angka yang cukup kecil, tetapi setidaknya itu akan menghapus dahaga di puncak musim kemarau.[]