Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Cakul

Cerpen: Bonari Nabonenar

Desa Cakul tumbuh di atas bentangan Pegunungan Kapur Selatan, yang kordinat bujur timur dan lintang selatan-nya belum pernah disebut orang. Kini kita memang dapat meneropongnya dengan bantuan Peta Google. Tetapi, ia tetap hanya sebuah noktah yang tidak dipandang penting.


Ini sebuah desa yang tandus. Berbukit-bukit, berbatu-batu, dan demikianlah memang karakteristik wilayah pegunungan kapur. Hanya di musim penghujan kesan kegersangan terhapus. Kemarau selalu datang dengan membentangkan peta kekeringan. Air pun segera melangka. Sebagian besar warga desa harus berjalan menuju sumber air dua hingga tiga kilometer jauhnya untuk mandi dan mengambil air bersih. Itu pun harus selalu rela mengantre berjam-jam. Begitu dapat giliran, mandi, mengambil air, dan membawanya pulang, sampai di rumah otomatis sudah mandi lagi: mandi keringat!

Saking langkanya air di musim kemarau, tak sedikit anak-anak jadi korban olok-olok teman sebaya atau yang lebih tua dengan mengatainya bahwa mereka jarang mandi dan setelah keluar dari kakus cebok dengan menggosokkan belahan pantat di atas pelepah daun kelapa. Ada pula yang bercerita bahwa banyak keluarga menyiapkan bongkok (sebutan untuk pelepah daun kelapa itu dalam bahasa daerah yang berlaku di desa ini) secara khusus untuk cebok cara kering (dalam bahasa daerah: peper). Banyak anak-anak kurang beruntung yang sering jadi sasaran olok-olok demikian. Sebagian di antaranya mengabaikan dan membiarkan penderitaan orang diperolok itu segera menguap dari perasaan dan ingatan, dan sebagian yang lain mengendapkannya hingga mengkristal sebagai dendam.

Lalu, rasa dendam itu dipelihara, terus dipupuk, dan beberapa di antaranya mendapatkan kesempatan untuk melunaskan dengan bunga tagihan yang mungkin terlalu jauh lebih besar dari pokoknya. Dalam hitungan puluhan tahun ke depan, datang sebuah momentum yang memungkinkan beberapa orang pengolok dipaksa membayar dengan sumpah-serapah ditambah siksaan fisik hingga nyawa terlepas dari badan dengan cara yang sungguh mengerikan.

Mungkin itu adalah tahun paling mengerikan di sepanjang sejarah pertumbuhan desa ini. Mbah Kakung pernah bercerita tentang sebuah zaman yang disebutnya sebagai Zaman Jahiliyah dengan merujuk waktu sekian puluh tahun ke belakang dari tahun penuh darah itu. Zaman yang diwarnai dengan peristiwa-peristiwa: jagoan kampung yang mengambil paksa seorang perempuan dari hadapan suaminya dan baru mengembalikan keesokan harinya –padahal antara pelaku dengan korban sudah saling mengenal karena mereka hanya bertetangga jauh, rumah-rumah yang dibakari, dan hewan ternak yang diciderai. Tetapi, tidak ada catatan korban jiwa manusia dalam ingatan, di sepanjang kisah tentang Zaman Jahiliyah versi Mbah Kakung itu.

”Oleh karena itu, keluarga yang terbilang berada pun di kampung ini banyak yang lebih suka membangun rumah beratap ilalang, dan tidak menggunakan atap genting. Rumah beratap genting memerlukan waktu lebih lama dan biaya lebih besar untuk membangunnya. Padahal, tidak pula kebal dari api,” begitu tutur Mbah Kakung. ”Pada waktu itu, hanya karena perkara kecil saja orang dengan ringannya membakar rumah, atau mencelakai hewan ternak untuk melampiaskan dendam terhadap pemiliknya,” timpal Mbah Putri.

Ada pula cara yang sering ditempuh pihak sakit hati terhadap orang yang sedang punya hajat besar-besaran dengan menggelar tayuban untuk memeriahkan peristiwa pernikahan atau khitanan. Pada waktu itu sudah dikenal penerangan dengan lampu petromak. Saat itu lampu petromak masuk daftar barang mewah di desa, yang tidak setiap keluarga memilikinya. Beberapa orang memiliki lebih dari satu untuk disewakan ketika ada orang punya hajat. Jumlah lampu petromak yang dinyalakan dapat pula dilihat sebagai ukuran besar-kecilnya sebuah pesta, apakah tiga, lima, atau tujuh. Menurut Mbah Kakung, tak pernah ada pesta dengan jumlah lampu petromak lebih dari tujuh yang dinyalakan. Orang yang sakit hati terhadap si empunya hajat tadi akan datang ke tempat pesta dengan membawa sekantung kerikil, lalu melempari lampu petromak yang sedang menyala itu hingga mati. Salah seorang jagoan kampung yang suka bikin ulah, konon memiliki kehebatan, mampu mematikan serentak tiga hingga lima lampu petromak yang sedang menyala dengan sekali lemparan kerikil. Kata Mbah Kakung, dan disetujui pula oleh Mbah Putri, biasanya memang lampu petromak di tempat orang punya hajat itu dinyalakan dan digantung dalam satu garis lurus.

”Kalau pun ada yang menawarkannya, aku tak bakal mau kembali ke zaman itu, walau untuk sekadar menyambanginya,” ujar Mbah Kakung sambil mempertegas embusan nafasnya, seolah sudah tak ingin bercerita lebih banyak lagi.

”Zaman Jahiliyah itu, maksud Mbah Kakung?” tanya saya.

”Ya.”

”Bagaimana kalau ke zaman ketika banyak orang dibunuhi di desa ini, bahkan oleh tetangga dekat atau bahkan kerabat sendiri itu? Apakah menurut Mbah Kakung bukan zaman ini yang lebih pantas dijuluki sebagai Zaman Jahiliyah?”

”Apalagi ke situ! Sungguh, benar-benar terlalu. Kita tidak punya kata atau sebutan yang tepat untuknya. Dan tidak perlu dicipta-ciptakan, karena tidak seharusnya bangsa manusia menampilkan lakon yang demikian di dalam sepanjang sejarah kehidupan di dunia ini.”

”Jadi, lebih baik dilupakan saja?”

”Untuk memberangus dendam dan rasa sakit yang tak berkesudahan di dalam jiwa-raga kita agar tidak merembes mempengaruhi kualitas sperma serta cairan indung telur yang akan menumbuhkan generasi penerus sejarah kehidupan manusia, ya. Tetapi, untuk menjadi pelajaran agar manusia tidak pernah terperosok ke dalam jurang yang sama, ke dalam lakon yang tingkat kebiadabannya hanya bisa ditandingi oleh binatang pemangsa sesamanya itu, ada bagian-bagian tertentu yang layak kita catat di dalam ingatan.”

Ternyata Mbah Kakung tidak segera menyudahi pembicaraan, atau beralih ke topik lain seperti yang sempat saya duga. Ia malah semakin berapi-api.

”Terserah bagaimana orang lain menilai dan menyebutnya apa, membakar rumah, menurutku masih boleh disebut sebagai sejenis kenakalan manusia. Sebab, orang yang rumahnya terbakar masih bisa tertawa. Atau lebih tepatnya: boleh tertawa. Kalau bisa. Tetapi, ketika dihabisi nyawanya..? Karena itulah kugunakan sebutan jahiliyah untuk menandai kurun waktu itu, dan sekali lagi, saya tidak punya perbendaharaan kata untuk menyebut yang satunya lagi,” Mbah Kakung seperti berteori.

Saya lalu meminta komentar Mbah Kakung mengenai banyaknya teori ngawur yang menyebut-nyebut nama ’Cakul’ dan menghubungkannya dengan nama raksasa yang hampir selalu tampil dalam setiap lakon wayang purwa: Cakil atau Buta Cakil. Cakil itu raksasa, bukan manusia. Watak raksasa itu jahat, jahil, bahkan sering pula disebut-sebut sebagai pemangsa manusia. Walaupun, ada beberapa perkecualian. Kumbakarna, saudara kandung Prabu Dasamuka yang terkenal dalam kisah Ramayana, misalnya, dikenal sebagai raksasa yang baik. Sosok hero seperti Gatutkaca pun secara fisik masih menampakkan ciri sebagai raksasa --konon bertaring-- sebab mewarisi gen raksasa dari ibundanya, Dewi Arimbi. ”Manusia-manusia Cakul itu cenderung jahat, jahil, karena mereka mearisi gen kejahatan dari Buta Cakil,” kira-kira demikianlah tesis yang hendak dikembangkan oleh sekalangan orang. Mereka mendapatkan semacam penguatan oleh fakta bahwa Cakul adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Dongko. Dalam cerita wayang purwa akan selalu muncul pertanyaan, ”Dangkamu ngendi?” (= Dongko-mu mana?). Pertanyaan sejenis, ”Jakartamu mana?” atau, ”Surabayamu mana?” itu biasanya dikemukakan ksatria kepada raksasa. Itulah yang segera menguatkan pemahaman bahwa Dongko merupakan bumi bangsa raksasa! Bagaimana komentar Mbah Kakung?

”Barangkali itu hanya semacam othak-athik mathuk, aku tidak sedang membantah atau mengiyakannya. Aku justru tidak sependapat dengan pernyataan bahwa raksasa itu bukan manusia. Raksasa itu manusia juga. Mereka hanya berpostur lebih tinggi-besar, lebih kuat. Dan lebih buruk rupa, tentunya menurut pemahaman salah satu etnis yang menyebut dirinya sebagai bangsa manusia. Bisa jadi itu semua berawal dari semacam kecemburuan yang berujung pada sentimen ras, rasialisme. Apakah selama ini kita sudah menelusuri lebih mendalam, sesungguhnya apa yang memicu konflik abadi antara manusia dengan raksasa dalam kisah-kisah lama itu? Jangan-jangan semuanya hanya berawal dari superioritas atau malahan semacam rasa rendah diri yang diselubungi sebegitu rupa di kalangan manusia, sehingga mereka, kita ini, merasa menjadi pemegang nilai kebenaran paling sah di muka bumi. Dan kita dengan entengnya men-stigma para raksasa dengan segala macam hal yang buruk dan jahat. Memangnya tidak dimungkinkan adanya manusia yang memakan raksasa macam semut memakan gajah? Terlalu fantastiskah itu, jika benar ada? Dan mana lebih fantastis dibandingkan dengan manusia yang memakan sesamanya?”

Iman saya mendadak goyah. Sepertinya ada suara kebenaran baru, walau masih sangat samar dan halus memasuki relung pemahaman saya. Walau tidak diakuinya secara terang-terangan, terasa Mbah Kakung memihak pandangan yang mengaitkan antara Cakul dengan Cakil itu. Dan sejurus kemudian seolah saya dihentakkan oleh ingatan pada uraian dalam sebuah buku yang belum habis saya baca, yang menyodorkan teori baru tentang sebuah benua yang dijuluki sebagai ”Surga yang Hilang” yang dengan enteng mengatakan bahwa walau kisah-kisah dalam dunia wayang --baik Ramayana maupun Mahabarata—merujuk wilayah-wilayah di India dan sekitarnya: Mandura (Madras), Alengka (Srilanka), dan lain-lain, sesunggunya nama-nama wilayah adalah semacam imitasi atau duplikasi dari nama-nama yang ada di Tanah Jawa dan sekitarnya. Dulu ketika orang tua mendongeng tentang Gunung Kumbakarna, tentang Hanoman yang memetik bintang dengan memanjat Gunung Lingga, saya hanya menanggapinya dengan senyuman beraroma sinisme. Sekarang? Iman saya sudah berbalik!

”Apa salahnya raksasa?”

”Lha, apa, menurut Mbah Kakung?”

”Mereka tidak membuat cerita sendiri. Semua kisah, cerita, dongeng, dibangun oleh yang menyebut dirinya sebagai bangsa manusia. Maka, para raksasa itu tidak diberi kesempatan membela diri, misalnya dengan mengatakan bahwa sesungguhnya dalam banyak kasus mereka hanya menghukum manusia yang memasuki wilayah kekuasaan mereka dengan kesombongan khas manusia. Lihatlah Buta Cakil itu. Bukankah ia hanya seorang penjaga keamanan wilayah kerajaan yang setia menjalankan tugasnya, tidak pernah mau disuap, dan selalu berhadapan dengan ksatria yang sombong, walau ia selalu kalah? Mungkin Cakil nakal, tetapi ia tidak jahat. Setidaknya menurut pemahamanku. Nakal, dan pandai menari pula, bukan?

”Wouw….! Begitu, ya, Mbah?”

”Paling tidak, itulah yang membuatku merasa terhormat dan akan merasa semakin bangga jika tiba waktunya nanti bisa mati di atas bagian bumi yang sangat indah ini.”

”Oh…..”

”Cobalah ajak kawan-kawanmu, dari dalam atau dari luar negri, jika ada, untuk datang ke desa ini, belajar bagaimana orang-orang hidup berdamai. Ketika banyak orang menjual buku panduan bagaimana merawat dan memelihara dendam, di sini anak-anak dari para orangtua yang pernah saling membunuh bisa saling mencintai, membangun keluarga baru, hidup baru, dengan jiwa dan semangat baru.”

Trenggalek, Januari 2013

dimuat Jawa Pos, Minggu, 27 Januari 2013

Selasa, 17 Agustus 2010

Megengan

Tradisi genduren (saka tembung kenduri +an-kenduren-genduren) megengan, utawa biasane disebut wae megengan, ngono, isih lumaku nganti tekan saiki ing Dhusun Nglaran. Ya wis kaya mengkono kuwi sebutane, mbuh kepriye larah-larah etimologine. Sangretiku sing kerep kocap kuwi tembung ’megeng napas’, tegese nahan utawa mekak ambegan. Mbokmanawa, megengan kuwi secara psikologis dianggep kayadene ngerem ndadak kebat-kemrungsunge urip padinan merga mapag dina kawitan ing wulan Pasa utawa mapag dina Riyaya. Megengan padatane uga ditindakake kanggo mapag dina Riaya utawa dina Idul Fitri. Dhek jaman cilikanku, genduren megengan kuwi ajeg dikembul wong samason. Mason iku kukuban warga nunggal sumber/belik kang diangsu. Ana kang samason mung dumadi 5 somah, ana kang nganti puluhan utawa las-lasan somah/kulawarga. Kulawargaku kang dhek semana isih dadi siji karombah buyut, melu mason Kali Poko, kang anggotane kepetung akeh, nganti 11 somah. Mangka yen genduren megengan iku biasane digelar gentenan ing saben omah. Beda karo genduren Muludan kang saben somah nggawa ambenge menyang omahe jurukunci mason banjur dikajatake lan dikembul bareng ing kono.

Bisa dibayangke, genduren bergilir kang dilekasi jam lima utawa jam 6 kuwi bisa nganti tekan jam 10. Lha yen ing saben omah mangan telung pulukan wae wis kari ngepingke sewelas, dadi 33 pulukan. Pokoke angger rampung acara genduren ing 11 omah kuwi ajeg kewaregen. Lha, olehe salat tarweh? Dhek aku isih cilik kuwi, sadhusun kira-kira ora genep wong lima kang nindakake salat tarweh jamaah ing masjid. Lha, wong sing nindakake salat wajib wae ya isih siji-loro.

Mason Kali Poko kuwi jurukuncine Mbah Wiryosari (saiki wus suwargi), nglintir saka wong tuwane. Mula angger ana genduren ajeg Mbah Wir kang ngajatake utawa ngujupake ambengane. Olehe ngajatake nganggo basa karma. Mung kala-kala digenteni Mbah Poidjan (saiki uga wis suwargi) kang dhek nalika semana saben dinane makarya kadidene kuli ratan.

Sawise dikajatake, sadurunge ambeng dipurak, luwih dhisik didongani. Dongane nganggo basa Arab, donga slamet lan donga kubur. Awit, sajake kang luwih baku ing genduren megengan kuwi kirim donga kanggo kang wis padha sumare. Kang kajibah ndongani, biasane Kek Giran utawa Lik Redi.

Kajatan iku satemene uga ngemu donga, upamane, ’’Awit dipunmule lan dipun metri, panuwune slamet wilujenga wiwit dinten niki ngantos sakpengajenge sampun wonten godha rencanane kantuna manggih seger kuwarasan lan sekeca anggenipun pados sandhang tedha, sedaya mawon dipun seseni kabul.’’ Angger olehe ngajatake wis tekan tembung "kabul" ngono kuwi banjur kang padha ngepung melu nyahuti bebarengan, "Kabuuuuuulllllllllllllllll.............'' Kuwi biyen. Saiki, sajake olehe nyauti kajatan kuwi wis ganti tembung, ''Amiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn........" Biyen ya kala-kala ana sing muni, "Amin," ngono, nanging isih kerep lan luwih akeh kang muni, "Kabuuuuuuullllllll." Ewadene, tembung "amin" kuwi jane wis kelet karo tradhisi genduren dhek jaman cilikanku, nganti "genduren" kuwi uga disebut "amin-amin".

Pandonga sajroning kajatan iku diandharake sawise ngarani perangane ambengan, upamane, takir, metri, mule, buceng lan sapiturute, lan njlentrehake apa maknane siji lan sijine. Upamane, ’’Dipunwontenaken mule-metri (wujude sega dikemongi diwadhahi piring, ganep lan lawuhe srondeng karo irisan endhog dadar utawa iwak pitik, wedhus, sapi..) menika perlu ngariayani anggenipun nglampahi siyam…’’ (ngono ing genduren megengan mapag bada utawa genduren maleman).

Genduren maleman iku, ing kukuban Mason Kali Poko biyen dianakake kaping telu sajrone wulan Pasa, yakuwi ing malem tanggal 21, malem 27, lan malem 29). Bedane, yen genduren maleman ambengan saka saben somah digawa menyang omahe jurukunci mason saperlu dikajatake lan dipurak bebarengan. Mbokmanawa kanggo ngentheng-enthengake, genduren maleman kuwi didum amrih ora saben somah nyepakake ambengan kaping telu. Upamane, kelompok lor kalen bageyan malem selikur, kelompok tengah malem 27, lan pomahan iring kidul sing melem 29.

Sadurunge genduren megengan digelar, bageyan domestik utawa kang nyambutgawe neng omah pawon, ora mung nyepakake ambengan kanggo genduren, nanging uga nyepakake sajen. Wernane sajen ya: sega (kayadene mule), kolak, wedang (kopi), rokok, lan sapiturute. Ujube, sajen kuwi kanggo arwahe kang wus padha sumare. Lha mengko angger olehe genduren rampung, sing duwe omah biasane njur nyang amben tengah lan ngetokake sajen sing wujud kolak utawa wedang saperlu disuguhake sing padha ngepung ambeng utawa peserta genduren.

Senajan tradisi genduren megengan isih lestari nganti saiki, pakulinan nyepakake sajen kuwi sajake wis ilang babarpisan.

Ing dina megengan, sadurunge bengine digelar genduren, wong-wong biasane padha nyekar menyang kuburan. Diarani nyekar, merga iku satemene acara sawur kembang ing kuburan, lan ndongakake amrih para ahli kubur, mligine anggota kulawarga kang wus katimbalan luwih dhisik, amrih nemu kamulyan ing kanane. [Bonari Nabonenar]

Selasa, 10 Agustus 2010

Lungursanten: 1975

Saelingku, mangsa paceklik paling mbedeking kuwi taune 1972. Nalika semana, aku isih kelas loro sekolah dhasar (SD). Nanging, nganti aku lulus SD. Yen sampeyan takon marang wong-wong Desa Cakul kang menangi jaman mbedeking kuwi, angka 1972 kuwi mesthi akeh kang eling. Satemene kang aran paceklik mono saemper ambah-ambah, ora mung dumadi taun 1972. Nganti taun 1976 (iku wektu nalika aku lulus SD lan kudu ngenger ing kecamatan seje amrih bisa nerusake sekolahku menyang SMP) aku menangi pirang-pirang ungsum paceklik. Titikane, angger wis ana rerasanane tangga manawa ana saperangan kang kerep kentekan gebing (gaplek) njuk mung njenang tela, sayure godhong tela, sok paribasane mung diuyahi, kaya ngono kuwi yen ambah-ambah paceklik nrajang.

Satemene ora nganti nemen kaya dek Jaman Jepang --miturut critane simbah-- nganti bonggol gedhang ya dipangan. Oh, iya, manut ujare crita, yen mundur rada adoh, saka 1972, taun kang paling mbedeking paceklike iku 1918. Lah, prekara paceklik iki kok becike dicritakke meneh mangko ya? Lha, wis 159 tembung kok durung nyrempet Lungursanten kang dirancang kadidene lakone crita iki.

Angka taun 1975 iku isih kena dianyang kok. Tegese aku ora bisa njamin apa kuwi pas tenan. Pokoke sakiwatengene taun iku, sing cetha aku isih dadi tukang ngarit lan sinau ing sekolah dhasar. Saben dina sabaku alas, ndilalah mangsa paceklik, ana wuluwetune alas kang maune kaya ora pati digatekake, dumadakan dadi lakon: uwi. Neng alas, klebu neng Lungursanten iku akeh uwi. Merga kentekan tela lan palapendhem liyane ing pekarangan, alas dadi jujugan.

Manekawarna uwi ana ing alas, ana uwi kontholbantheng, uwi lus, lan uga ana gembili. Uwi kontholgantheng kuwi bisa gedhe, brongkalan, tur mapane isine ora pati jeru. Gampang le ndhudhah. Beda maneh uwi lus, iku saben uwit mung isi siji, ndlujur nunjem bumi. Gedhe cilike isine bisa katitik saka uwite. Yen nemu sing uwite sing mrambat kuwi gedhene sarokok ngono wae wong senenge ora jamak, jalaran isine uwi lus iku merit ing ndhuwur lan sangsaya mengisor sangsaya gedhe. Dene gembili, iku kondhang paling enak rasane, nanging le ngerah ya paling angel merga uwite rinengga marung (eri).


Saben dina ana wong tegalan (=golek menyang alas) uwi. Mula alas saelore padhukuhanku, kuwi, klebu ing Lungursanten, banjur dadi kebak jlondhangan, juglangan, tilase wong ndhudhuk uwi. Kadidene tukang ngarit kang kulina nunggangi grumbul utawa blusukan ing sangisore, kahanan iku ora nyenengake, merga yen ana blahine sawayah-wayah bisa kecemplung juglangan. Mbareng saiki kenal GoogleEarth, njuk dadi mbayangke, kepriye ya rupane Lungursanten (1975) nalika kebak juglangan kuwi yen disawang saka antariksa?

Lungursanten kuwi perangane alas ing lor padhukuhanku. Saka omahku (omahe wong tuwaku) udakara 4 utawa 5 km. Mung dhek nalika semana dalane isih dalan setapak.

Ambane ora nganti atusan hektar. Kira-kira ya sepuluhan hektar, utawa malah kurang, nggligir saka sangisore Lemah Abang (saka arah Gunung Bogang). Pereng sisih tengen anjog nyang Jurug, sisih kiwa ana kalen kang ing nggir kanane iku ana perangane alas kang katelah Rata-rata. Nggir kanane Rata-rata ana padhukuhan Banaran, kalebu Desa Sawahan kang wus kebawah Kecamatan Panggul. Lha yen terus bablas anjog mengalor, mengko bakal tekan tempuran Kali Ulik, kang nampani banyu saka arah Kecamatan Pule sisih Kidul lan saka saperangan Kecamatan Dongko.

Senajan saiki kahanane wis kaya pekarangan, merga wis dikapling-kapling dening warga kang diembani LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), Lungursanten dhek jaman cilikanku biyen wujud alas tropis kanthi manekawarna wit-witan, thethukulan, lan sato kewan. Ana wit jati, weru, mauni (mahoni), pule, bendho, tangkil, lan liya-liyane. Jare simbah, dhek aku durung lair alas Lungursanten kuwi wis tau dibukak. Lah, bukakan alas dhek jaman semana kuwi mung kanggo sawatara taun, ora kaya program LMDH saiki kuwi sing sajake ora diwatesi embuh nganrti kapane. Kewan khas Lungursanten, sing ora tinemu ing alas kidul (sakidule padhukuhanku) yakuwi lutung. Yen kethek iku neng Jurug ya ana, lan sing jan akeh tenan nganti dadi kaya kratone kethek, iku alas kidul. Si kethek ing alas kidul sajake durung cures nganti saiki. Nanging, lutung ing Lungursanten wis cures babarpisan.

Mbokmanawa bakal luwih akeh maneh kang ing tembene mung kari dongenge. [Bonari Nabonenar]

Kamis, 05 Agustus 2010

LMDH = Lembaga Masyarakat Desa (BUKAN) Hutan

Setiap kali pulang kampung (Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek), setiap kali pula perasaan saya dibetot pemandangan: alas atau hutan yang kini telah berubah menjadi ladang. Ini bukan soal mengkampanyekan kesadaran terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Itu soal lain. Ini persoalan yang sangat atau mungkin terlalu pribadi.

Saya menghabiskan masa kecil di desa itu, dibesarkan bersama-sama oleh keluarga besar: ayah-ibu, nenek, dan bahkan buyut saya. (Bersyukurlah saya, masih bisa menyaksikan buyut saya menimang anak saya. Itu berarti, anak saya masih sempat ditimang oleh canggah-nya). Buyut saya itulah orang yang paling berjasa mengenalkan saya dengan kehidupan rimba, hutan. Saya sebut begitu, karena ketika saya kecil, hutan di sekeliling desa saya yang kini telah berubah jadi ladang itu adalah hutan tropis dengan aneka tumbuhan dan binatangnya. Binatang yang paling popular ketika itu adalah celeng alias babi hutan. (Nanti akan ada cerita tersendiri mengenai babi hutan ini.) Karena itulah, ketika kini hutan jadi ladang, saya merasa kehilangan sebagian dari masa kecil saya.

Sejak kelas 1 SD saya sudah belajar ngarit, mencari rumput dan dedaunan untuk pakan kambing. Begitu kelas 3 SD saya sudah ngarit bukan sekadar belajar, tetapi bekerja. Dan di kelas 4 atau 5, sepuluh ekor kambing sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Apakah masih ada anak sekarang seperti saya waktu itu? Atau jika pertanyaannya boleh sedikit di ubah, di manakah kini kira-kira seorang bocah kelas 4 SD mengalami seperti yang saya alami sekitar 35 tahun lalu?

Karena waktu dan tempatnya, dengan beban seperti itu saya tak pernah merasa tersiksa. Saya menikmati pekerjaan itu, karena bekerja (ngarit) dan bermain seolah melebur sedemikian indahnya. Di desa, tidak ada anak gedongan. Tidak ada anak manja, yang bebas dari pekerjaan membantu orangtua. Dan Komisi Perlindungan Anak saya kira juga tidak perlu risau dengan cerita saya ini.

Sebelum menamatkan SD dan harus ngenger di ibukota kecamatan yang berjarak 10 km dari rumah sendiri, saya merasa sudah mengenali setiap jengkal hutan di sekeliling desa saya itu. Di mana ada pohon kemaduh (yang sangat ditakuti karena gatalnya), di mana tumbuh rawe yang juga ditakuti karena gatalnya, terutama saat musim berebunga, di mana ada kedung yang bisa disinggahi untuk mandi dan bersukaria, di mana biasanya orang memasang jebakan dan welah (bambu runcing) untuk menangkap celeng, kami, anak-anak desa tahu semuanya.

Kini, hutan seperti yang saya kenali, yang saya jelajahi setiap hari di masa kanak-kanak itu sudah tidak ada lagi, telah menjadi ladang dengan tanaman singkong, nilam, cengkih, dan di beberapa tempat ditanami pinus. Para warga desa masih menyebutnya, ’’alas’’ (hutan), tetapi itu hanya tinggal namanya saja. Bahkan, atas prakarsa Perhutani dibentuklah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), yang, menurut saya sebetulnya lebih tepatnya adalah ’’Lembaga Masyarakat Desa Bukan Hutan”. [b]

Senin, 29 Desember 2008

Guwa Gong


Critane: Astri Sugiartikasari


Liburan sekolah wis teka, dina Rebo iki mau aku mlebu terakhir. Aku lan kanca-kancaku bebarengan mulih. Kelas VII A arep tamasya.
’’Nis, engko rundhingan ning endi?’’ pitakone Sandy.
’’Ya ning sekolahan lho Sin,’’ semaure Danis.



Susi mlayu-mlayu mburu Kiki, paling-paling arep takok mengko rundhingane jam pira. Sidane Susi ora candhak, banjur Susi marani Tomy.
’’Tom, mengko rundhingane jam pira?’’ pitakone Susi.
’’Jam setengah telu,’’ wangsulane Tomy.
’’Suwun, Tom,’’ wangsulane Susi.
Wayahe wis setengah telu, bocah-bocah wis padha budhal. Nanging aku durung enek sing nyeluki.
’’As, ayo budhal selak kasep lho!’’ Anggit ajak-ajak.
’’O, iya, ayo! wangsulane Astri.
Gerbang wis ditutup. Aku lan Anggit kasep, banjur aku ndredheg wedi lek didukani Bu Budi.
’’Assalamualaikum..’’ Astri lan Anggit uluk salam.
’’Waallaikumsalam,’’ semaure Bu Budi lan bocah-bocah.
Aku karo Anggit dikon nyang ngarep banjur aku ngewel.
’’Nyangapa kasep?’’ pandangune Bu Budi.
’’Astri lan anggit ora gelem nyauri, marahi wis kadhung wedi. Sekarone banjur lungguh. Bu Budi sujoke durung ngrundhingke.
’’Bu, angsale tamasya dhateng Lamongan nggih Bu?’’ pitakone Tomy.
’’Lho,Tom kadohen lho. Angur nyang Pacitan wae sing biayane tithik,’’ cluluke Danis.
Bu Budi isik mikirne nyandi ale Tamasya marahi yen kadohen biayane akeh.
’’Bocah-bocah, tamasyane nyang Pacitan Guwa Gong wae ya?’’ kandhane Bu Budi
’’Setuju!!!’’ wangsulane bocah-bocah.
Bocah-bocah wis padha mulih menyang omahe dhewe-dhewe. Gawane rekreasi apa wae, bocah-bocah akeh sing nambak dhewe-dhewe.
’’Nis, apa sing kokgawa?’’ takone Tika.
’’Embuh, paling aku nggawa camilan, roti. Ujare Danis.
Bocah-bocah padha ora kanten nunggu dina sing diarep-arep.
Dina sing diarep-arep wis teka. Aku lan kanca-kancaku mlumpuk ning sekolahan budal rekreasi ning ndalan padha nglemik karepe dhewe.
’’Cah, sampeyan kuwi thik ngremil wae ta? Apa ora lidhas ta ilatmu?’’ aloke Bu Budi.
’’Mboten, Bu, niki lho bu sanghai,’’ ujare Freinda.
Jam 09.00 wis tekan panggonan sing dituju. Swasana ning papan rekreasi apik nyenengake. Sakwise mlebu aku wedi banget lek rubuh.
’’Nis aku wedi,’’ ujare Nita.
’’Ora-ora, ora apa-apa kok,’’ ujare Danis.
Swasana ning Guwa Gong sejuk lan penak.[]