Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2013

MENDUNIAKAN AREM-AREM

Semula tak ada penjual roti maryam dalam gerobak dorong yang cantik, boleh pula disebut mungil –karena memang tidak terlalu besar sehingga, walau isinya penuh pun tak perlu tenaga terlalu besar untuk mendorongnya—itu di stasiun-stasiun kereta api di surabaya: Stasiun Wonokromo, Stasiun Gubeng, maupun Stasiun Pasar Turi. Ketika ada yang memulainya, ternyata berjualan roti maryam dalam gerobag dorong di stasiun kereta cukup laris.



Beberapa pekan lalu juga belum ada orang berjualan roti ”anu” (untuk tidak menyebut namanya) di Terminal Bus Bungurasih. Pertengahan bulan lalu (Januari 2013) tiba-tiba sudah ada pula sejenis gerobag dorong, tidak boleh dibilang mungil, tetapi lapaknya sangat simpel, sebesar rombong bakso yang biasa didorong masuk ke gang-gang di perumahan itulah kira-kira besarnya. Dan, laris-manis pula! Beberapa orang mengantri dalam barisan yang tidak rapi. Roti yang mendadak laris di terminal bus ini adalah jenis yang biasanya dijual di stan-stan khusus di supermarket atau di mall-mall.

Ndilalah, dua contoh itu adalah jenis makanan yang biasanya dikonsumsi orang-orang kota: roti. Mengapa keduanya laris-manis dijajakan dengan model lapak mini dan bahkan dalam gerobag dorong yang mungil? Jawaban paling tepat tampaknya adalah, orang-orang yang sedang berada di dalam perjalanan pergi atau pulang itu tampaknya senang bisa memperoleh makanan, pengganjal perut yang berkualitas, tanpa harus berhenti lama dengan cara masuk ke sebuah resto atau rumah makan, tanpa harus duduk di kursi berlama-lama. Hanya dengan menghampiri gerobak atau lapak mini itu, menunggu beberapa menit, barang yang diinginkan sudah dapat dibawa langsung menuju bus yang hendak ditumpangi. Terutama bagi mereka yang ingin bersicepat, makanan itu dapat dimakan sambil berjalan atau pun ketika nanti sudah berada di dalam bus tanpa rasa risih. Tentu, berbeda halnya dengan, misalnya, memakan nasi bungkus (di dalam bus), bukan?

Jika anda memiliki minat di bidang ini, observasi perlu segera dilakukan untuk menemukan terminal bus atau stasiun kereta api yang potensial dan belum diisi lapak/gerobak sejenis. Atau, bisa saja dicoba jenis makanan praktis pengganti nasi bungkus/kotak yang dapat dimakan sambil berjalan atau ketika sudah duduk di dalam bus/kereta tanpa merasa risih/sungkan terhadapm penumpang di sebelahnya. Kira-kira apa? Nah, ini dia: arem-arem. Kini tampaknya arem-arem juga sedang naik daun. Terutama untuk penumpang angkutan umum antarkota antarprovinsi (AKAP).

Mengapa arem-arem? Karena arem-arem dibuat dari bahan baku beras, jadi semacam lontong, tetapi di dalamnya diberi lauk, biasanya dari tempe yang dibumbui. Saya pun pernah membelinya di dalam bus di tengah perjalanan Surabaya – Solo. Harganya Rp2.000/lontong. Bandingkan dengan”nasi kucing” yang di sebuah warung pinggir jalan raya dibanderol Rp1.000/bungkus.




Bahwa arem-arem termasuk komoditas yang laris di kalangan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sudah menjadi fakta. Jika anda ingin mengangkat derajatnya (derajat arem-arem) menjadi barang jualan dalam gerobak mungil atau lapak mini di terminal bus atau stasiun kereta api, yang mesti anda lakukan adalah: (1) mengubah kemasannya agar lebih berkesan: bersih, sehat, dan cantik tanpa harus mengganti bahan bungkus daun pisang itu dengan plastik, (2) memilih beras yang lebih berkualitas, (mengisinya dengan lauk yang lebih enak dan lebih bervariasi, (menyediakan pula variasi/pilihan, misalnya: pedas dan biasa.

Adalah sangat mungkin, tak peduli apakah mereka orang kota atau orang desa, perut mereka akan lebih merasa nyaman di tengah perjalanan ketika sudah ’diganjal’ dengan makanan berupa nasi (pada dasarnya arem-arem adalah nasi juga). Bukankah sering orang mengeluh, belum merasa tenang jika belum makan nasi? Yang pasti, modifikasi atau perubahan dari arem-arem biasa menjadi arem-arem yang derajatnya lebih tinggi akan secara otomatis berpengaruh terhadap margin potensi keuntungan. Karena itu, anda mesti benar-benar matang di dalam perhitungan.

Nah, dengan gerobak dorong yang cantik, atau dengan lapak mini yang unik, siapa tahu anda dapat menduniakan arem-arem! Semoga, sehingga Peduli pun nanti akan ikut marem (senang). Kayao! [bon]

Kamis, 12 November 2009

Jadi Pengusaha Bahan Bangunan


Sebagai Batu Loncatan untuk Jadi Kontraktor?

Usaha pembuatan bahan-bahan bangunan tergolong bisnis yang cukup prospektif. Peluangnya lumayan bagus. Disamping ada kaitannya dengan semakin banyaknya jumlah penduduk, usaha ini juga mengikuti perkembangan ekonomi masyarakat.


Semakin baik tingkat ekonomi masyarakat, peluang usaha ini juga semakin lebar. Saat ini masyarakat tampaknya sudah mulai meninggalkan tradisi membuat rumah dari kayu, selain karena kayu sudah mulai mahal, membuat rumah dari batu-bata ataupun batako ternyata lebih praktis.

Pemerintah sendiri saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembagunan fisik untuk kepentingan masyarakat, mulai pembuatan jalan, jembatan, perumahan, perkantoran. Selain itu juga banyak sarana kepentingan umum yang sudah mulai minta direhab.

Program tersebut yang jelas semakin membuka pasar bagi bahan-bahan/produk bahan bangunan, dari pasir, semen, batu-bata, batako, genting, dan lain-lainnya.

Salah seorang yang jukup jeli menangkap peluang tersebut adalah Boyamin (40) warga Desa Pandean, Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek yang mengawali usaha penyediaan bahan bangunan sejak 2003.

Boyamin memang sudah tidak asing dengan hal-hal yang ada kaitannya dengan bangunan, karena sejak masih bujang ia sudah berkecimpung di pertukangan, baik pertukangan batu maupun peertukangan kayu. Bahkan, sempat merantau ke Jakarta selama 7 tahun.

’’Saat masih bujang saya bekerja di Jakarta cukup lama, yaitu sejak 1991 sampai 1998. Sebelum terjadi kerusuhan (Mei 1998, Red) saya sudah pulang. Yang saya kerjakan di sana ya sebagai tukang bangunan dan kadang-kadang kalau ada nasib cukup baik saya juga ikut mborong, tapi sebatas pekerjaan atau proyek yang kecil- kecil saja,’’tutur Boyamin.

Sempat Nganggur
Sepulang dari Jakarta Boyamin sempat nganggur. Sesekali saja ada orang yang menyuruh mengerjakan bangunan rumah. Hal itu ia jalani sampai ia menikah dengan Supatmi (29). Setelah menikah baru ia punya rencana untuk buka usaha.

’’Sebenarnya usaha berawal dari pembuatan maesan, saat itu timbang nganggur saja jadi sama sekali hasilnya tidak dapat diharapkan karena belum pasti kalau sebulan sekali ada yang terjual,’’ ujar Supatmi.

’’Kemudiaan saya dan suami punya pikiran bagaimana kalau kita coba membuat gorong-gorong, karena saat itu setiap musim kemarau banyak orang yang membutuhkan untuk membuat sumur dan buk (jembatan, Red), dan mereka biasanya banyak membeli dari kota karena saat itu selain di wilayah perkotaan belum ada yang membuat,’’ imbuhnya.

Ide tersebut menurut penuturannya diwujudkan pada Tahun 2003 dan secara pelan-pelan dikembangkan, yang semula hanya nisan dengan gorong-gorong kemudian ditambah dengan membuat batako dan risplang, itupun pembuatannya sebatas kalau ada yang pesan.

Bertambah Tahun perkembanganya cukup lumayan bahkan untuk pembuatannya yang saat itu dilakukan sendiri hanya dibantu dengan seorang karyawan, mulai kuwalahan hingga sampai saat ini Boyamin memiliki 15 orang karyawan.

Adapun saat ini dengan karyawan 15 orang, usaha Boyamin ini dalam hal produksinya sudah cukup lengkap, antara lain batako, paving, risplang, gorong-gorong, gibsum, dan masih banyak jenisnya. Yang jelas saat ini ia bisa melayani apa saja pesanan yang berhubungan dengan keperluan bangunan khususnya yang dari cetakan.

Mengikuti Pasar
Apa yan g diproduksi, lebih ditentukan oleh permintaan pasar atau pesanan. ’’Dalam hal produksi jenis apa yang ramai atau banyak permintaan yaitu yang banyak saya buat. Sampai saat ini saya belum berani untuk produksi secara masal. Masalahnya kalau lama tidak laku hitungannya bisa rugi. Namunm, biarpun ada pesanan yang mendadak saya tetap bisa mengusahakan,’’ ujar Boyamin.

Pemasaran hasil produksinya ternyata masih sebatas satu wilayah kecamatan saja. Namun demikian, menurut penuturannya, saat ini sudah mulai cukup kuwalahan melayani pelanggan. Pasalnya ada kendala dari pasokan bahan baku pasir yang agak kurang lancar.

Bila pasokan pasir tidak lancar kadang-kadang harga tinggi pun terpaksa ia beli hal ini mengingat pasir merupakan bahan utama untuk produksinya sehingga nantinya yang jelas pendapatan yang diperolehnya akan minim.

’’Kalau pasir sepi mas, yang jelas harganya mahal, namun terpaksa kita beli tapi yang jelas nanti hasilnya nipis banget,’’ tutur Boyamin.

Hitung-hitungannya menurut Boyamin dari satu truk pasir antara lain untuk batako ukuran 30 x 15 cm bisa menghasilkan sebanyak 500 buah, sedangkan untuk gorong-gorong berkisar antara 20 sampai 30 buah, tergantung dari ukuran barangnya.

Dari segi harga ternyata cukup terjangkau semisal batako per bijinya dilepas dengan harga Rp 1.700 sampai Rp 2.000, sedang gorong-gorong untuk ukuran diameter 20 Cm dilepas dengan harga Rp 25.000 dan ukuran diameter 80 cm dilepas Rp 50.000.

’’Tentang harga itu semua bisa diatur, tinggal permintaan pembeli tapi yang jelas bila minta yang murah kualitasnya pun juga agak rendah,’’ ujarnya.
Saat ditannya berapa omzet perbulannya dengan tersenyum ia enggan untuk menjelaskan. ’’Bagaimana ya saya tidak bisa menjelaskan ibunya itu mungkin karena ia yang ngurus uangnya,’’ tutur Boyamin sambil melirik istrinya

’’Saya sendiri kalau ditanya berapa, angkanya secara pasti tidak bisa, tapi yang jelas untuk bayaran karyawan setiap orangnya harus menyediakan Rp 20 000, namun itu pun tidak setiap hari semua bekerja, dan lagian tiap bulannya tidak pasti kalau selalu ramai. Bahkan pernah dalam sebulan karyawan hanya memproduksi saja dan untuk memenuhi kebutuhan hanya mengandalkan dari pembelian partai kecil saja,’’ tambah Supatmi.

Modal Telaten
’’Usaha seperti ini yang penting telaten apa lagi saat ini semakin banyak yang membuka usaha sejenis, makanya saya tidak berani untuk memproduksi secara massal. Tapi yang jelas bila ada pemasukan sedikit demi sedikit saya sisihkan untuk tambah modal,’’ tutur Boyamin.

’’Yang penting lagi kita jangan sampai patah semangat, biarpun hanya memiliki modal sedikit pokok telaten dan pandai-pandai mengatur uang akhirnya besar juga. Bila mengingat usaha saya ini yang dulunya hanya jual maesan, banyak yang menduga kalau saya dapat suntikan dana. Sama sekali tidak ya hasil dari penjualan itu yang saya buat mengembangkannya. Tapi yang jelas kita harus kuat puasa untuk pengeluaran di luar kepentingan usaha,’’ tambah Supatmi.

Kendala usaha ini menurut penuturan Boyamin saat ini semakin banyak saingan tapi baginya rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tapi meskipun banyak yang membuka usaha sejenis ia tetap optimis bahwa usaha ini tetap memiliki prospek yang bagus karena semakin banyak pula yang membutuhkan.

’’Memang sekarang saingan semakin banyak tapi Alhamdullah permintaan sampai saat ini tidak ada penurunan, bahkan saat ini sudah ada pesanan 6000 buah batako yang belum selesai saya kerjakan. Hanya saja karena semakin banyak usaha sejenis, menjadikan kendala pasokan bahan baku pasir sering telat,’’ jelasnya.

’’Selain itu bagi saya saat ini yang menjadi kendala justru lokasi produksi yang semakin sempit, tempatnya sudah tidak cukup lagi. Makanya sekitar 4 bulan yang lalu saya membuka cabang di wilayah lain sekaligus memperluas usaha,’’ tambah Boyamin.

Menurut Supatmi usaha yang dirintis mulai dari nol sampai bisa berkembang sampai sekarang tidak terlepas dari kiat usaha yang dimilikinya.

’’Ya untungnya suami saya itu cukup menguasai tentang seluk beluk bangunan jadi tentang hitung-hitungan masalah bangunan mulai dari nol atau mulai dari material sampai jadi bangunan yang siap huni ia bisa memperkirakan berapa biaya yang diperlukan,’’ tutur Supatmi.

’’Sering ada pelanggan yang ingin memuat rumah minta tolong pada suami saya untuk menghitungkan berapa biasa yang harus disediakan, bahkan ada yang sekaligus minta tolong untuk membuatkan gambar,’’ tambahnya.

’’Ya idep-idep promosi kan tidak rugi, untuk sekedar membuatkan gambar dan menghitung besaran biaya yang diperlukan tidak berat dan itu sama sekali saya tidak menarik biaya atau imbalan uang. Tapi yang jelas biasanya mereka mengambil bahan-bahannya dari sini terutama batako, tiang beton, dan risplang, ada juga yang pernah beli gibsum dan suruh masang sekalian. Itu pun tetap saya layani,’’ tutur Boyamin.

Tampaknya kedepan Boyamin memiliki ancang-ancang untuk mulai mengembangkan usaha selain sebagai penyedia bahan bangunan sekaligus menjadi pemborong. Hal ini berdasar penuturannya bahwa ia telah beberapa kali bersama karyawannya mengerjakan pembuatan rumah dan sering melayani pembelian risplang, gibsum, beserta pemasangannya.

Buka Cabang
Karena terkendala luas lokasi produksinya sudah tidak mencukupi lagi Boyamin berusaha membuka cabangnya yang lokasinya justru dekat dengan kota kecamatan, dan notabene diwiyayah itubanyak terdapat usaha sejenis.

Hal tersebut ternyata memang disengaja selain karena kebetulan adiknya bertempat tinggal didekat lokasi cabang usahanya itu sekaligus adiknyalah yang disuruh untuk mengurus cabang usahanya.

’’Kebetulan saya punya tanah di Dongko. Berhubung saya kekurangan tempat produksi, maka tanah tersebut saya jadikan lokasi produksi, sekaligus untuk menjajagi bagaimana bila usaha di tempat yang telah banyak berdiri usaha sejenis,’’ ujarnya.

Awalnya di lokasi yang baru tersebut hanya memproduksi pesanan yang yang telah masuk di rumah produksinya yaitu Pandean. Karyawannya juga diambilkan dari lamanya dari 15 orang yang ada dirumahnya yang 3 orang dibawa ke cabangnya yang ada di Dongko.

Namun lama kelamaan di cabangnya-pun mulai mendapatkan pelanggan. Menurut penuturannya saat ini dengan 3 orang karyawan juga mulai kuwalahan.

’’Ternyata biarpun didekat lokasi cabang saya itu banyak terdapat usaha sejenis dari segi pasar tidak menjadi soal buktinya saat ini seperti batako misalnya, seandainya mentolo masih belum kering-pun sudah ada yang mau ngangkut,’’ tutur Boyamin. [pur]

Senin, 07 September 2009

Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi (3)

Beli Tanah

Sebenarnya selain membantu istrinya jualan di warung nasinya kegiatan lain yang dilakukan oleh Sumardi ini adalah petani. Saat ini lahan pertaniannya cukup luas,dan menurut penuturannya semua itu awalnya dia beli dari hasil usaha warungnya. ’’Ya saya akui memang apa yang saya miliki sekeluarga awalnya dari hasil yang saya sisihkan sedikit demi sedikit. Kalau ingat kadang saya tertawa sendiri tapi kadang trenyuh juga. Ceritanya setiap hari pasaran saya sisihkan selembar uang kertas entah nilainya berapa saya lupa. Tapi yang jelas saya linting sampai kecil dan saya masukkan dalam stagen yang telah saya jarum seperti dompet, jadi seperti itu cara nabung saya yang paling aman, karena tidak pernah lepas dari badan kecuali saat mandi,’’ tutur Kadiyem sambil tertawa.


Masih menurut penuturannya saat ada orang yang menjual sebidang tanah yang telah ada tanaman cengkehnya maka Kadiyem bersama suaminya membuka tabungan yang tak pernah lepas dari tubuhnya tersebut dan ternyata tabungannya masih kurang untuk membayar harga tanah tersebut. Maka mau tak mau Kadiyem terpaksa menjual satu-satunya cincin miliknya.

Kemudian dari hasil ladang tersebut ditambah dengan hasil warung nasinya setiap ada orang yang menawari tanah selama harganya masih terjangkau Sumardi maka ia membelinya sampai saat ini telah 7 bidang tanah yang telah dibelinya.

Saat ini setelah ketiga anaknya telah berkeluarga semua dan telah memiliki usaha sendiri-sendiri, ia hanya berdua dengan istrinya masih setia mengelola rumah sekaligus warung nasi ramesnya.

Hanya saja berhubung tenaganya tidak seperti waktu masih muda ia tidak lagi menggunakan daging kambing sebagai lauk nasi ramesnya, namun beralih dengan daging ayam.

’’Memang, sejak 1990 saya tidak menyembelih kambing lagi mengingat tenaga mulai berkurang maka lebih praktis menggunakan daging ayam. Dan alhamdulillah pembeli tidak ada penyusutan bahkan sampai saat ini tetap lumayan,’’ tutur Sumardi.

Saat ditanya siapa nanti yangb meneruskan usahanya Kadiyem menjelaskan bahwa kemungkinan tidak ada karena anak perempuannya kelihatannya tidak berminat.

’’Entah nanti lha wong Sufat anak perempuan saya, kelihatannya enggan karena melihat bagaimana repotnya saya ketika mempersiapkan dagangan dari mulai awal memasak sampai menyajikan pada pembeli,’’ tutur kadiyem. ’’Tapi nggak tahu lagi setelah saya tak lagi kuat untuk mengelola warung ia tergerak untuk meneruskan,’’ tambahnya.

Telaten

Ketika ditanya apa kiatnya sehingga ia tetap setia pada usahanya dan mampu bertahan sampai saat ini justru semakin ramai.

’’Apa kiatnya tidak ada, tapi yang penting kita telaten dan tahan godaan, tidak gampang menyerah. Usaha seperti ini harus tahan banting. Ibunya itu (istrinya- Red) orangnya tak pernah mengeluh, memang kelihatanya kalau sudah diniati apa pun resikonya harus tabah menghadapi,’’ tutur Sumardi.

’’Jualan makanan itu banyak resikonya kalau pas ramai dagangan habis yang jangan terlalu senang tapi kalau tidak laku ya jangan lekas patah arang, Lha wong rezeki sudah ada yang ngatur,’’ tambah Kadiyem menimpali suaminya.

’’Tapi, yang pasti karena yang kita jual adalah makanan yang jelas harus bersih, baik makanannya maupun tempatnya. Cara melayani pembeli harus supel, setiap pembeli harus kita layani dengan ramah, harga yang kita buat jangan mahal-mahal yang penting kita masih ada sedikit untung. Dan yang tidak kalah penting adalah jangan sekali-kali membedakan pembeli baik pegawai, orang kaya maupung, orang miskin harus kita layani dengan sama,’’ pungkas kadiyem. Perempuan itu beranjak melayani pembeli yang baru datang.

Sementara Sumardi setelah membantu istrinya segera menghampiri dan asyik merawat burung perkutut peliharaannya.[pur

Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi (2)

Mula-mula hanya Lodeh Tewel


Menurut penuturannya ia sebetulnya sejak masih bujang sudah biasa berjualan makanan mulai dari singkong rebus sampai ikut membantu ibunya jualan nasi lodeh (nasi dengan sayur lodeh yang tempe lamtara). ’’Saya jualan nasi ini sejak tahun 1966 setelah saya menikah. Jalan raya depan rumah ini masih berupa jalan batu. Kendaraan belum ada, paling-paling seminggu sekali ada satu dua yang lewat. Jadi, para pedagang yang perempuan sambil menggedong dan yang laki-laki memikul dagangannya semua jalan kaki dari Panggul sampai Pasar Kampak sejauh 35 km. Sampai di sini (Pasar Talun), dulu masih pasar templek, mereka istirahat sambil sarapan. Yang tidak membawa bekal sendiri mereka sarapan di warung saya,’’ tutur Kadiyem.


’’Saat itu yang saya jual adalah nasi dengan sayur lodeh tewel, rebung, dan tempe gabus (tempe dari biji lamtara, Red). Itulah permulaan saya buka warung,’’ lanjut Kadiyem.

Masih menurut penuturannya jualan nasi lodeh tersebut dijalani sampai tahun 1975. Baru setelah pembeli semakin ramai dan ekonomi masyarakat mengalami perkembangan ia menambah menunya dengan nasi rames. Namun, lauknya masih berupa tempe kedelai dan rempeyek.

Tahun 1980 ia mulai jualan nasi rames dengan lauk daging kambing dengan cara ia mengambil daging kambing dari pedagang daging dengan cara bayar belakangan (setelah habis terjual).

Setelah dihitung-hitung hasilnya cukup lumayan, kemudian menyembelih kambing sendiri. Sang suami kebagian tugas menyembelih kambing itu.

Bila dilihat dari cukup ramainnya pembeli pastilah penghasilan dari buka warungnya cukup lumayan besar.

’’Saya ini kok tidak pernah menghitung penghasilan atau pemasukan dari warung. Tapi, yang jelas bisa saya makan sekeluarga, sedikit-sedikit nicil membuat rumah, yang dulunya masih berdinding gedhek sekarang ya seperti ini,’’ tuturnya.

’’Untuk ragat (biaya) sekolah ketiga anak saya ya cukup dari warung bahkan sekarang sudah mentas semua dan masing-masing sudah saya kasih sedikit modal bila mau buka usaha,’’ tambahnya.

Berkat ketekunan dan kesabaran yang dilakukan Kadiyem ternyata dipetik pada masa tuanya. Meskipun sampai saat ini ia masih setia menggeluti usahanya namun dibanding saat masih dalam masa perjuangannya sangat jauh berbeda.

’’Kebanyakan orang itu kalau melihat hanya suksesnya saja, tanpa melihat bagaimana susahnya untuk menuju kesuksesan tersebut. Banyak contohnya sekarang kan banyak yang mencoba buka usaha tanpa dipikirkan lebih dahulu kendala terburuknya. Maunya yang penting punya modal, buka usaha dan dalam bayangan mereka cepat besar, kadang mereka lupa pada apa itu? Sikon? Jelasnya kalau saya amati kebanyakan sama latah. Satu buka usaha dan kelihatan jalan maka baramai-ramai buka usaha yang sejenis,’’ tutur Sumardi.

’’Saya dulu saat masih manten anyar tidak punya apa-apa. Bahkan, saat jualan nasi lodeh modalnya dari orang lain tapi berupa barang. Seperti beras saya ambil dari orang lain kemudian karena berasnya dari hasil tumbukan tangan dan masih kotor maka oleh istri saya dibersihkan sendiri. Setelah, setelah nasi lodeh habis terjual, baru kami bayar. Itu saya alami hampir 10 tahunan,’’ lanjut Sumardi mengenang masa lalunya.[pur]

Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi [1]

Ini kisah tentang bagaimana sebuah ketekunan, ketelatenan, membuahkan hasil. Hasil yang tak harus diukur dengan berapa omzet sebuah usaha atau berapa besar keuntungannya. Menu yang disajikan di warung makan milik pasangan Sumardi (60) dengan Kadiyem (56) ini termasuk sederhana, yaitu nasi rames dengan lauk ayam goreng. Namun, karena hanya menyediakan satu jenis menu tersebut warung ini justru menjadi jujugan para pelanngannya.

Dengan hanya mengandalkan menu nasi rames tersebut ternyata setiap harinya bisa menghabiskan rata-rata 25 kg daging ayam. Itu angka yang fantastis untuk sebuah warung, walau di tepi jalan raya terbilang jauh dari kota (7 km dari Kantor Kecamatan, sekitar 40 km dari kota kabupaten).

Satu hal yang menguntungkan adalah letaknya yang, selain di tepi jalan raya, berada di dekat pasar desa yaitu Pasar Talun, Desa Pandean, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Tepatnya di km 41 jalan raya Trenggalek - Pacitan.

Biarpun statusnya hanya pasar desa, setiap lima hari sekali yaitu setiap Pahing pasar tersebut penggunjungnya cukup ramai, didatangijuga oleh para pedagannya dari berbagai daerah seperti TulungAgung dan Trenggalek.

Faktor lokasi yang strategis itulah tampaknya yang membuat warung ini cukup ramai. Selain itu warung ini dari segi harga termasuk murah. Satu porsi nasi rames dengan lauk ikan ayam beserta minuman baik kopi atau teh cukup dengan Rp 5.000.

Dari segi rasa juga cukup lumayan serta pelayanannya pun cukup memuaskan. Setiap harinya mulai dari memasak nasi hingga lauknya sampai masakan siap disajikan pada pembeli Kadiyem dibantu suami dan dua orang perempuan yang khusus dibayar untuk itu. Warung dibuka setiap hari mulai pukul 7 pagi sampai pukul 17.00 dan setiap hari buka kecuali hari Jumat ia tidak membuka warungnya.

Selain melayani pembeli ia juga sering menerima pesanan untuk berbagai acara yang diadakan baik oleh desa maupun instansi pemerintah, yang biasanya berupa nasi kotak/bungkus.[pur]

Senin, 29 Desember 2008

Pasangan Kasmin-Pairah: 36 Tahun Membuat Tempe Debog

Kasmin [44] beserta istrinya, Pairah [48], menekuni usaha pembuatan tempe debog [tempe berbahan dasar kedelai yang dikemas dengan batang pisang [debog]. Mengaku tak punya ketrampilan lain, Pairah menjalani bisnis pembuatan tempe debog ini secara turun temurun, walau penghasilannya tergolong sangat kecil. Pairah mengaku menekuni usaha pembuatan tempe [awalnya membantu orangtua] mulai umur 12 tahun.

’’Saya sejak umur 12 tahun telah berjualan tempe. Tapi, saat itu tempe gabus [berbahan biji lamtara]. Jadi, sampai sekarang pekerjaan membuat tempe ini sudah mendarah-daging,’’ tutur perempuan warga Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek [Jawa Timur] ini.

Sebetulnya proses pembuatan tempe debog tidak berbeda dengan tempe-tempe lainnya. Awalnya kedelai dibersihkan, lalu direbus sampai setengah matang [3 – 4 jam]. Setelah itu diangkat dan didinginkan. Selanjutnya di diiles [diinjak-injak] sambil disiram air untuk memisahkan biji kedelai dari kulitnya. Selanjutnya disaring dan dibilas sampai bersih, dan ditiriskan kemudian direbus lagi selama sekitar 1 jam.

Lalu kembali ditiriskan sampai dingin, untuk kemudian diberi ragi. Proses selanjutnya adalah pembuatan pembungkus dari batang pisang. Batang pisang itu sendiri dipilih dari jenis pisang kawak, kluthuk, raja, yang irisan batangnya tipis dan tidak terlalu berair. Batang tersebut dikelupas dan dipotong-potong dengan ukuran 50 cm, lebar 12 cm, kemudian dilipat jadi 2. Hingga ukurannya 25 cm. Selanjutnya diberi tali tutus [dari bambu]. Dari hasil lipatan tersebut akan terbentuk rongga tempat kedelai yang sudah diberi ragi. Tutup lobangnya juga dibuat dari debog yang dibentuk bulat-bulat sesuai ukuran mulut rongganya. Setelah jadi, kedelai yang sudah diberi ragi dimasukkan, dan mulut ronga dititip rapat.

Setelah semua selesai, hasilnya ditumpuk dan dibungkus dengan plastik untuk membantu proses peragian selama semalam. Pagi harinya tempe sudah jadi, dan siap dijual ke pasar.

Penjualan

Dalam 5 hari, Kasmin dan istrinya setiap 2 kali memroduksi tempe debog. Setiap produksi rata-rata menghabiskan 35 kg kedelai, diolah jadi 400 debog tempe. Pemasarannya cukup dilakukan di pasar desa saja dan dilakukan sendiri oleh Kasmin dan istrinya. Harga jual per debog-nya Rp 500. Perolehan dari hasil penjualan 400 biji x Rp 500 = Rp 200.000. Bila dipotong bahan baku kedelai yang saat ini Rp 4.200/kg dan ragi Rp 5.000, maka pendapatannya = Rp 48.000. Itu belum dikurangi ongkos [tenaga] dan kayu bakar. Penghasilan yang tergolong sangat kecil.

’’Sebetulnya kalau dihitung-hitung, hasilnya sangat minim. Namun, apalagi ketrampilan yang saya miliki selain ini?’’ kata Pairah.

Untuk menunjang penghasilannya Kasmin berusaha bercocok tanam dan memelihara beberapa ekor kambing. Itulah sumber penghasilan lain yang sewaktu-waktu ada keperluan mendadak bisa diandalkan.

Kendala utama yang dialami selama ini adalah modal. Pasalnya, selama memroduksi tempe bahan baku dipasok oleh pedagang kedelai dan pembayarannya setiap habis berjualan. Jadi Kasmin hanya memperoleh sisanya saja. Belum lagi bila musim ikan laut, maka penjualannya seret. Dan kadang tidak habis. Smentara setoran tetap sesuai dengan kedelai yang diproses. [PUR]

Menjadi Pengusaha Mebel di Kampung


Antara Tradisi Sambatan dan Cari Untung



Muntoha dan Sukirno, dua kakak beradik warga Rt 29 Rw 15 Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek ini semula tak pernah bercita-cita menjadi tukang mebel.
Ketrampilan membuat mebel yang dimilikinya pun diperoleh karena mereka sering ikut sambatan (bekerja hanya dengan diupah makan, Red) di tetangga-tetangganya. Lalu mereka mulai bisa membuat pintu, meja, kursi, almari dan lain-lain untuk kebutuhan rumah sendiri.



Setelah masyarakat di lingkungannya banyak yang tahu bahwa hasil garapan mereka cukup bagus, seorang-dua orang tetangga lalu minta tolong untuk membuatkan mebel. Ada yang bahannya diantarkan ada juga yang menyuruh mengerjakan di rumah yang membutuhkan.

Pekerjaan ini sudah dijalani hampir 8 tahun. Awalnya, peralatan yang digunakan cukup seadanya. Namun, seiring dengan semakin meningkatnya order maka dibelilah peralatan yang menggunakan listrik, antara lain gergaji, dan ketam.

Pekerjaan yang bisa dilayani adalah pembuatan gawang pintu beserta daun pintunya, meja-kursi, almari, jendela, dipan dan lain-lain.

’’Tergantung dari pemesannya. Jenis apa saja asal ada gambar atau contoh serta ukurannya kalau saya bisa pasti saya kerjakan, yang penting bahannya di antar ke sini,’’ ujar Sukirno.

’’Pesanan biasanya berganti-ganti, kalau pas banyak orang yang membuat rumah kebanyakan pesanannya adalah membuat kerangka pintu dan jendela serta daunnya, selain itu ada saja orang menyuruh membuatkan meja atau almari,’’ tambahnya.

Pada bulan Puasa yang lalu Muntoha mengaku dapat order 5 buah dipan, 15 jendela, dan 8 buah daun pintu.

’’Pesanan untuk bulan ini semuan bahannya sudah diantarkan dan mereka rata-rata minta diselesaikan sebelum hari raya, makanya mau-tidak mau harus saya lembur,’’ ujar Sukirno.

Biaya atau ongkos mengerjakan masing-masing pesanan tidak sama tergantung dari jenisnya. Menurut penuturannya ia hanya mengambil ongkos kerjanya saja sedangkan bahan-bahan semua dari pemesan.

Ongkos pembuatan Almari ukuran kecil 120 x 180 Rp 250.000 untuk yang ukuran 16 x 180 ditarik Rp 300.000, daun pintu Rp 150.000, dipan Rp 150.000, jendela Rp 50.000/ daun. Gawang Rp 20.000/plong.
Semua itu hanya ongkosnya saja sampai selesai, sedangkan pembelian bahan-bahan untuk finishing yang beli adalah pemesannya.

Sampai saat ini Muntoha dan Sukirno ini hanya menyediakan jasa saja. Mereka belum bisa memenuhi pesanan barang jadi, karena belum bisa menyiapkan bahan baku (kayu)-nya.

’’Kendala utama bila ada orang yang ingin membeli mebel adalah saya tidak punya kayunya (bahannya), makanya saya hanya sebatas membuatkan,’’ tutur Muntoha.

Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 buah almari bila dikerjakan 2 orang adalah 5 hari, daun pintu 2 hari kerangka pintu rata-rata 2 buah/hari, sedangkan jenis lain rata-rata 2 hari.

Bila tidak ada orang yang memmbutuhkan jasanya pekerjaan lain dari dua kakak beradik ini adalah bercocok tanam selain memelihara beberapa ekor kambing. Dari hasil usahanya ini menurut Sukirno cukup bisa membantu ekonomi keluarganya.

’’Bila sedang sepi terkadang saya tinggal merantau. Biasanya ke Kalimantan untuk jangka 3 sampai 5 bulan untuk bekerja di bangunan atau di perkebunan sawit, tapi saya lakukan bergantian dengan kakak saya. Soalnya untuk njagani (berjaga) kalau ada orang memerlukan, salah seorang dari kami ada yang bisa melayani,’’ tutur Muntoha.

Kini, biarpun kakak-beradik ini telah menjalankan bisnis, bila dibutuhkan oleh tetangga-tetangganya untuk membantu pekerjaan yang ada kaitannya dengan urusan pertukangan ia tidak akan menolak. Masalahnya, tradisi sambatan di daerahnya masih tetap terjaga. [PUR]