Minggu, 12 Februari 2012

MEMULIAKAN GUNUNG BOGANG?

"Trenggalek lambangnya Gunung. Orang Trenggalek semangat dan karakternya sekokoh gunung, mengakar ke tanah, tak roboh diterjang angin. Memberi pertumbuhan pada kehidupan"... (Prof. Gendut Suprayitno dalam Sambutan Aksi Sejuta Pohon di Gunung Orang-Arik tadi siang)

--Nurani Soyomukti: Grup "Dewan Kesenian Trenggalek"





--sumber air Gondang Rayut, di lereng Gunung Bogang

Karenanya gerakan "memuliakan gunung" seperti itu sangatalah bagus. Kapan ada DIALOG melibatkan aktivis gerakan (dalam bahasa orang kampung saya, "gerakan" = kerja bakti) semacam ini dengan LMDH dan Perhutani? --kampung halaman saya dikepung wilayah "Perhutqani" dulu memang hutan, tetapi sekarang lebih sekadar sebagai ladang yang dieksploitasi.

Tidak terbaca adanya konsep pemeliharaan hutan yang bagus. Menanami kawasan-kawasan tertentu dengan pohon yang "tidak dipanen" (misalnya durian -dipanen buahnya) seperti sudah dilakukan di Watulimo adalah sangat bagus.

Hingga tahun 80-an saya masih melihat hutan. Sekarang, sekali lagi, semua di sekitar kampung halaman saya (desa Cakul, kec. Dongko) menjadi ladang, bahkan puncak Gunung Bogang yang masih ada kaldera-nya itu pun menjadi ladang singkong. Di sini, Gunung tidak dimuliakan, tetapi dinistakan.

Andai kesempatan datangnya tokoh-tokoh sekaliber Prof Gendut Riyanto ini di Trenggalek sekaligus dimanfaatkan juga untuk berdialog dengan pihak-pihak seperti saya sebut tadi itu, niscaya pekerjaan yang sangat mulia (menanam pohon) seperti tadi pagi itu akan semakin mendapatkan maknanya. demikian, mohon maaf belum bisa nimbrung dalam aksi nyatanya, dan terima kasih. [BON]

Kamis, 09 Februari 2012

PERTOLONGAN PADA STROKE MENDADAK

Untuk kita amalkan, semoga bermanfaat : Orang yg kena STROKE mendadak (jatuh di toilet, di jalan atau tempat2 lain), pembuluh darah ke otak biasanya akan pecah sedikit demi sedikit. Ingat, untuk mengatasi hal ini janganlah gugup/panik.

Jika korban berada di tempat kejadian seperti di kamar mandi/ruang tidur/ruang tamu dll. JANGAN di-pindah-pindahkan ke tempat lain, karena akan mempercepat pecahnya pembuluh darah, dan janganlah sampai dia terjatuh lg. Caranya adalah dengan mengeluarkan darah korban dgn menggunakan jarum yg telah dibakar/disteril kan dengan alkohol yg kemudian ditusukkan ke ujung setiap jari masing2 sampai darahnya keluar± 1-2 tetes.

Kalau darahnya tidak keluar dapat diurut sampai keluar, sesudah itu korban akan sadar setelah beberapa menit kemudian.

Jika korban mulutnya miring, tariklah kedua daun telinganya sampai merah dan langsung tusuk bagian bawah daun telinga dg jarum steril sampai darah keluar ± 1-2 tetes.
Setelah korban sadar dan mulutnya sudah pulih kembali, barulah dibawa ke dokter/Rumah Sakit. Biasanya orang yg terkena STROKE pembuluh darahnya akan lebih cepat pecah karena goncangan dalam perjalanan ke RS/dokter.


Orang tsb dapat tidak sadar kembali/pingsan dan biasanya akan cacat/lumpuh.
(Kita harus ingat untuk MENGELUARKAN DARAH dari jari orang yg terkena STROKE tsb, maka kita sudah bisa n berusaha menolong orang tsb dari penyakit STROKE).

Tulisan ini sebaiknya diteruskan pd tmn2 lain
Maka Tak terhinggalah jasa pahala anda.
Aamiin
Salam


dari Pak Dh Abadinar yang mengopipaste tulisan Yuntri Junaedi/Jakarta untuk menambah pengetahuan.

Sabtu, 04 Februari 2012

WASPADALAH: Gantungan Kunci Jebakan

Info dibawah ini saya copas dari teman (Yuntri Junaedi), semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Info BARESKRIM:

Harap berhati-hati !! MODUS BARU PERAMPOK : Ada sindikat penjahat menyamar sebagai promotor penjualan yg memberikan Gantungan Kunci Gratis di pompa bensin, tempat parkir di mall2 dan pusat2 perbalanjaan lainnya. Gantungan kunci itu memiliki Chip alat pelacak yang memungkinkan mereka u/ mengikuti Anda. Jangan terima barang dr mereka.

Mereka memilih calon korbannya yg berpotensi, & jika Anda menerima, maka Anda sudah masuk perangkap mereka. Gantungan kunci itu memang sangat indah, sulit u/ menolaknya, tapi Anda hrs ingat.
Anda mungkin akan membayar lebih dari harga gantungan kunci tsb, termasuk resiko yg menimpa hidup Anda.

Mohon beritahu anggota keluarga Anda & teman-teman lainnya (y):)
Berita ini sangat PENTING bagi Anda dan Saudara,, juga Keluarga anda..
WASPADALAH...!! [dari aku FB Pak Dh Abadinar]

Senin, 30 Januari 2012

Gagrag Bonarian

Oleh Sucipto Hadi Purnomo



BERCERITA tentang sastra Jawa masa kini, saya merasa mesti berkisah soal Bonari. Bonari Nabonenar lengkapnya. Apa istimewanya? Bonari, jelas nama Jawa, berkesan ndesa pula. Tapi Nabonenar, rasa-rasanya belum pernah ada anak Jawa yang diberi nama itu. Bukan Jawa? Entahlah. Toh saya tak hendak menyoal lebih jauh ikhwal nama, kecuali saya anggap ia bisa menjadi pambukaning warana untuk menyibak gambaran sebagian dari kehidupan sastra Jawa masa kini.
Saya mengenal Bonari kali pertama bukan sebagai sastrawan Jawa. Saya dengar nama itu ketika gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman mampir ke kampus saya, IKIP Semarang di Sampangan, tahun 1990. Saya tak ingat benar, dia datang atau tidak, apalagi dengan paras seperti apa. Yang saya ingat, dia salah satu dari sederetan anak muda-sastrawan yang tengah melawan hegemoni pusat dalam hal bersastra.

Dari majalah berbahasa Jawa "Panjebar Semangat", sepanjang dekade 90-an, saya makin mengenal nama itu sebagai penulis geguritan dan cerita cekak (cerkak). Saya mengenalnya sebagai sastrawan Jawa, hingga pada tahun 2001 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, saya tahu dialah salah satu dari penggerak Kongres Sastra Jawa (KSJ). Konon nama lain yang berada di barisan ini adalah Keliek SW, Daniel Tito, Dhanu Priyo Prabowo, dan sejumlah nama lain.

Sungguh saya jatuh hati pada KSJ I "pada pandangan pertama". Bukan saja pada spirit perlawanan yang diusung, tetapi pada keguyuban yang kemudian membangun kemandirian.

Betapa tidak, ketika Kongres Bahasa Jawa (KBJ) dihelat dengan biaya miliaran rupiah dari pemerintah, KSJ justru hadir dari hasil "bantingan". Alih-alih mendapatkan honorarium, para penyelanggara justru harus "cucul dhuwit" untuk transportasi, akomodasi, konsumsi, dan berbagai kepentingan lain. Tak hanya penyelenggara, para peserta, bahkan pembicara pun harus menjalani nasib serupa.

Namun justru di situlah kemandirian terbangun. Justru karena itulah, KSJ mampu hadir sebagai ajang konsolidasi bagi para sastra Jawa, baik muda maupun senior, untuk terus menghidup-hidupi "tlatah cengkar" ini.

Tanpa bermaksud mengecilkan peran yang lainnya, Mas Bon --begitu biasa saya menyebutnya-- pantas mendapatkan catatan secara khusus. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya (kini Unesa) ini hampir selalu saya jumpai dalam setiap pertemuan sastra Jawa. Mulai dari Semarang, Ungaran, Yogyakarta, Solo, Bojonegoro, Surabaya, Trenggalek, hingga Tulungagung.

Dari setiap pertemuan, saya makin tahu, dialah pejuang terdepan untuk mengupayakan pertemuan dan penerbitan buku-buku sastra Jawa. Saya tak melihat sama sekali upaya "mbathi" dari usaha itu, kecuali malah "nomboki", setidaknya untuk diri sendiri.

Jujur, ketika saya bersedia menerima tongkat komando pada KSJ II di Semarang, salah satunya karena "iri" pada Mas Bon. Saya ingin belajar darinya untuk turut berbuat bagi sastra Jawa. Begitu pula tatkala diamanahi teman-teman sastrawan untuk memimpin Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) bersamanya.

Ketika saya merasa tak banyak berbuat, saya justru melihat upaya gigih Mas Bon untuk terus-menerus membangun jejaring dengan teman-teman sastrawan dan pencinta sastra Jawa. Penerbitan buku sastra Jawa senantiasa ia upayakan, kegiatan sastra Jawa juga ia dedikasikan.

Festival Sastra Jawa di Desa, yang digelar di Desa Cakul, Dongko, Trenggalek, Jawa Timur 2009 lalu, salah satunya. Saya lihat dalam kegiatan itu, Mas Bon mendedikasikan dirinya "luar-dalam". Lagi-lagi ya saksikan suasana yang nyaris sama dengan KSJ.

Namun Anda akan keliru jika menganggap Mas Bon hanya "memainkan" sastra Jawa hanya pada wilayah "ndesa" atau pada ranah domestik belaka. Tidak. Mas Bonlah yang pantas disebut sebagai penggerak utama sasatra Jawa di dunia maya.

Ketika dunia ini menawarkan fasilitas jejaring sosial, Mas Bon membuat grup Sastra Jawa Gagrag Anyar (SGJA). Ribuan orang bergabung di sini. Sebagiannya menjadi kreator sastra Jawa di situ, sebagian yang lainnya menjadi komentator, sedangkan sisanya memilih jadi pembaca pasif.

Saya melihat kekuatan dahsyat di sana. Nama-nama baru bermunculan. Sejumlah geguritan yang diunggah bahkan makin membelalakkan mata saya, betapa karya-karya itu memiliki capaian estetis di atas rerata karya-karya yang dimuat di berbagai majalah berbaha Jawa, bahkan yang telah diterbitkan dalam bentuk buku sekalipun.

Grup SGJA saya lihat sebagai sebuah terobosan cerdas, sekaligus bangunan kemandirian, buat sastra Jawa. Keluh kesah tentang sedikitnya publikasi dan penerbitan buku sastra Jawa, sebagiannya telah dijawab oleh forum ini. Sekaligus di sana, tegur sapa kreatif senantiasa terjalin.

Ya, pada Mas Bon saya melihat daya jelajah itu: desa dan kota, penerbitan dan gerilya, juga nyata dan maya. Mas Bon telah dengan nyata menyuguhkan sebuah gagrag dalam memperjuangkan sastra Jawa. Izinkanlahn saya menyebutnya sebagai gagrag bonarian. [suara merdeka, minggu, 30 Oktober 2011)

Jumat, 27 Januari 2012

Ukum mung Galak marang Wong Cilik

Gek iki jaman apa ta ya? Pendhak melek nonton televisi utawa maca koran, saben-saben mung wong gedhe, para pejabat, padha eker-ekeran rebut bener, rebut kuwasa. Sajak padha lali ayahan kang kudu diemban kadidene pamong, momong rakyat, ngayomi wong cilik. Ukum kang kudu dijejegake kanggo ngudi adil, amrih negara ayem tentrem, malah galak-e mung yen ngadhepi wong cilik. Yen adhep-adhepan karo wong gedhe, pejabat, panguwasa, bebasan nglumpruk tanpa daya.

Saka palapurane media cetak apadene elektronik bisa kinawruhan manawa saiki jantraning ukum ing Indonesia lagi ruwet ora karuwan. Wiwit jamane Sengkon-Karta, prekara wadon tuwa nyolong woh coklat/kakau mung telung iji, Si Kholil sing nyolong semangka siji merga mung prelu arep dipangan ing sawijining awan ngenthang-enthang ing tlatah Kediri, Jawa Timur, prekarane Prita Mulyasari kang malah dilorobake menyang pakunjaran, kamangka niyate mung arep ngudi adil, prekara wong wadon kang trima nggajuli/makili dadi napi ing Bojonegoro, nganti kang dinane iki isih anget dadi rembug: prekara sandhal jepit, kabeh nuduhake manawa ukum ing negara iki mung landhep mengisor, nanging kethul mendhuwur. Kethul mendhuwur, katitk saka prekara-prekara gedhe: BLBI, Century, Mafia Pajek, Mafia Hukum, seprana-seprene isih pijer kompal-kampul ing donyaning pakabaran, ora cetha jluntrunge.

Wus dikawruhi ngakeh saka maneka-warna sumber pakabaran, kepriye nasibe wong cilik yen wis nyemplung pakunjaran, mlebu bui, apa kuwi pancen murwat karo kadurjanan kang ditindakake apadene mung kalorob merga ora bisa nyewa pengacara gamben kang bisa cilike ngenthengake, gedhene mbebasake saka paukuman. Miturut gotek, ana sing dipilara kaya dianggep dudu manungsa, ana sing trima nglalu gantung dhiri sajroning pakunjaran kuwi, lan liya-liyane. Nanging yen wong gedhe (diarani gedhe amarga kalungguhane utawa saka akehe dhuwite) bisa nyulap kamar pakunjaran dadi kaya kamar hotel berbintang. Ana uga sing kamar pakunjarane malah mung kanggo ampiran, ing saliyane wektu kanggo nglakoni urip bebas mblakrak tekan ngendi-endi, malah uga nglencer menyang luwar negri.

Pancen angel dinalar. Wong mung nyolong semangka siji wae kok diancam ukuman 5 taun. Rugine sing duwe semangka ya mung saregane semangka siji kuwi. Bisa ora kepetung rugi, kepara malah isih kudu nomboki yen kuwi dilebokake jatah (kuwajiban) zakat –yen kang kawogan nggunakake paugeran mbayar zakat. Utawa, lamon dieklasake kadidene sedhekah, apa kabotan tenan? Sejene kuwi, prayogane wong Jawa kuwi rak ngelingi unen-unen, ”Tuna satak bathi sanak,” ta? Apamaneh sing nyolong semangka kuwi isih klebu tanggane dhewe. Yen olehe ngetung tuna apa bathi ora mung kanthi dhuwit, endi sing luwih aji: semangka siji apa sesambungan paseduluran, kekadangan, rukun karo tanggane?

Yen kanyatane kaya mangkono kuwi, apa bisa diarani yen ukum wis bisa nindakake ayahane: njejegake adil? Apa ukum wis ditindakake kanggo ngayomi bebrayan? Apa lembaga pemasyarakatan bisa dadi ”sekolahan” kareben para durjana bisa sinau urip dadi wong becik? Apa malah dadi sekolahan amrih dadi durjana kang sangsaya ”sekti”?

Gajah Ngidak Rapah

Kang sangsaya nyedhihake, akeh kadurjanan kang pranyata malah ditindakake dening paraga kang pinracaya nyekel bang-bang pangalum-aluming praja –saka tataran kelurahan nganti sapendhuwur— uga dening paraga-paraga kang dipasrahi amanat mligi kanggo njejegake adil: pulisi, jeksa, hakim. Ngono kuwi rak ya wis aran sungsang bawana balik?

Hakim, jeksa, pulisi, lan paraga-paraga saka bebadan kang ingaran DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) malah akeh kang mlebu pakunjaran. Iku wae mung sing kewiyak. Liyane, sing satemene klebu murwat lamon dilebokake pakunjaran nganti tetaunan, mbokmanawa luwih akeh –tinimbang kang wis dikunjara. Iku kabeh paraga-paraga kang diarani ”Gajah ngidak rapah.” Ya kuwi paraga-paraga kang duwe wenang gawe lan njejegake ukum, nanging nyatane malah tumindak nerak ukum.

Paraga-paraga kang kudune dadi panutan, tibake malah aweh conto tumindak nistha. Wis bayarane gedhe, tunjangan maneka-warna, urip mubra-mubru, tibake isih akeh kang padha kanthi slinthutan nyaut kene, nyaut kana. Rakyat kaya-kaya wis padha kelangan panutan. Yen wis kaya mangkono, saka ngendi maneh olehe arep nyangkani mangun bebrayan kang kebak kautaman?

Ana pitutur ing serat Tripama, ora mung tumrap para prajurit, nanging uga kabeh pawongan, luwih-luwih kang sinebut pamong utawa pejabat, narapraja, prayogane ngugemi ” … triprakara: guna kaya purun ingkang den antepi, nuhoni trah utama”. Emane, saiki kaya wis padha kelangan lacak, trah-e sapa sing arep dienut!

Bebungah lan Pidana

Ing kahanan sungsang bawana balik, ya jaman sungsang-sarik, wong nistha malah dialembana, dene sing tumindak utama malah disiya-siya, dipilara, dipidana. Iki kaya janturane ki dhalang nalika miwiti adegan Gara-gara. Mbokmanawa kahanan saiki iki memper karo Gara-gara ing pakeliran. Alam-e murka, lindhu bumi gonjing, gunung njeblug, pereng jugrug, samodra rob, banjir, udan salah mangsa, lan sapiturute. Manungsane ya padha bilulungan kaya gabah deninteri. Laku durjana mratah ing ngendi-enti, sedulur manjing satru, memungsuhan, paten-pinaten kaya padha ora ngreti tata. Sing jeneng demonstrasi dumadi saben dina. Rakyat adhep-adhepan karo aparat, aparat malah sok tawur karo sapepadhane aparat.

Ora pejabat, ora rakyat, kabeh padha bilulungan. Padha mbingungi. Kabeh padha lalen-lalen, ora ngreken unen-unen, ”Sabeja-bejane kang lali isih luwih beja kang eling lawan waspada,” (Ronggowarsita: Kalatidha) sajak wis diplintir dadi, ”Sakpenak-penake sing eling, isih luwih penak sing lali lan kuwasa.”

Jroning lali, pamarentah utawa bebadan resmi sok malah banjur kaladuk ngalembana, aweh bebungah, marang paraga apadene bebadan kang satemene bisa nuwuhake prakara, kaya ta gelar Dr. Hc. kang ditibakake marang Raja Arab Saudi sawatara wektu kepungkur, jroning kahanan akeh wanita pramuwisma kang dipilara, gedhene malah pinatrapan pidana pati ing kana. Uga pangaji-aji marang Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia kang dianggep becik, luwih didhisikake diwenehi penghargaan tinimbang bebadan-bebadan sosial, lan uga para pekerja migran kang wus nuduhake bektine kanggo ngayomi kaum-e.

Jejeging adil kudune bisa winangun kanthi patitis miji-miji, milah-milih, endi utawa sapa kang pantes pinaringan bebana, lan endi utawa sapa kang kudu dipatrapi pidana. Angger isih kerep klera-kleru ing bab iki, tangeh bisane adil dijejegake.

Badan Intelijen

Dhek biyen ana buku sejarah kanggo murid sekolah dasar (SD) kang ngemot saweneh crita ngenani Kraton Kalingga. Embuh piye persise, ukara-ukara kapisane kira-kira mangkene: ”Pada abad ketujuh, berdirilah sebuah kerajaan. Kerajaan Kalingga namanya. Rajanya seorang putri, Shima namanya,” lan sateruse. Ratu Shima digambarake kadidene ratu kang adil. Adhine dhewe kang kadenangan tumindak durjana, dipatrapi ukum, dikethok sikile. Uga kacarita, paukuman iku dipatrapake merga tumindak kadurjanan-e konangan langsung (tertangkap basah) ing sawijining wengi, nalika Sang Ratu lagi namur-lampah nitipriksa kahanane rakyate. Lakon-lakon namurlaku (miturut dedongengan) uga kerep ditindakake dening Raja Harun Ar-Rasyid ing Bhagdad.

Dudutan kang bisa dipethik, saka crita-crita kuwi bisa kinawruhan manawa fungsi bebadan intelijen lumaku kanthi becik. Saiki, ing negara iki, angger disebut tembung ”badan intelijen” kang paling gumawang dhisik dhewe yaiku anane ancaman katentreman saka pihak teroris lan sapiturute. Prekara-prekarane rakyat cilik, kang ngancam rakyat cilik lan dianggep ora ngancam ”negara” kaya-kaya luput saka kawigaten.

Untunge isih ana kang aran media cetak apadene elektonik. Kabukten, meh kabeh prakara ukum kang gegayutan karo wong cilik banjur dadi kawigaten awit saka gumregute para jurnalis, awis saka anane media cetak apadene elektronik kang saiki ora dibungkem dening pamarentah kaya jaman kang wus kawuri. Muga-muga ora panggah kandheg mung rame ing pakabaran. Nuwun. [Bonari Nabonenar/Suara Merdeka]

Senin, 23 Januari 2012

Komunitas Suket Indonesia dan Silaturahmi Budaya

Tadi malam 22 Januari 2012, saya menonton teater, lakon Negri Sungsang yang dipentaskan oleh Komunitas Suket Indonesia, di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Luar biasa menariknya, menurut saya! Mengapa? Nanti saja. Sekarang, kita simak dulu apa dan siapa Komunitas Indonesia, melalui catatan yang dibuat oleh Riris D Nugrahini melalui media Facebook dan dibagikan pula melalui Grup Dewan Kesenian Jawa Timur ini:

--Komunitas Suket Indonesia (KSI) adalah bagian kecil dari masyarakat umum, dan dengan kecilnya itulah KSI mencoba senantiasa untuk belajar kepada masyarakat baik secara umum maupun khusus. Menimba ilmu, pengetahuan, ketrampilan dan apapun. Belajar untuk saling bersentuhan dengan media kesenian – kebudayaan. Dengan harapan untuk bisa menyentuh sisi kemasyarakatan dan kearifan lokal.

Sehingga dalam kehadiran KSI, besar harapan kami untuk tidak hanya berlangsung suatu pertunjukan panggung dimana ada yang ditonton dan ada yang menonton, namun lebih jauh lagi ada kemungkinan ruang untuk berbagi (sharing) bahkan diaplikasikan langsung dengan masyarakat setempat dan bermanfaat untuk bersama. Tumbuhnya budaya, apapun namanya, tetap harus dimulai dari potensi lokal masing-masing, minimal menjadi persaudaraan lahir dan batin.

Jika kemudian dalam persinggungan itu muncul suatu yang besar, manfaat yang panjang, maka yang besar bukanlah KSI. Yang tumbuh, yang ada, yang berkembang, adalah murni pelaku-pelaku didalamnya dengan segala bentuk perjuangan yang dilakukan dalam mencari pemanfaatan yang nyata.

Pada kesempatan ini, KSI, bersama Komunitas Jaran Kepang WAHYU BUDAYA Mojowarno – Jombang, kembali berproses dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya pada tempat-tempat yang akan dikunjungi dalam proses NEGRI SUNGSANG ini.

RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Minggu, 22 Januari 2012
Bekerjasama dengan Sanggar Anugerah Desa Wisata Budaya Njono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro
Lokasi Pertunjukan : Sanggar Anugerah Njono
Waktu Pertunjukan : 19.30 wib

B. Senin, 23 Januari 2012
Bekerjasama dengan Karang Taruna Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban
Lokasi pertunjukan : Balai Desa Maibit
Waktu Pertunjukan : 19.30 wib
Dengan rangkaian kegiatan latihan gabungan bersama beberapa komunitas teater di wilayah setempat dan sharing bersama petani setempat untuk praktek pembuatan insektisida organik.

C. Sabtu, 28 Januari 2012
Bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Blora, Komunitas Mobil Kawuk Mbloro (KMKM), Jamaah Shalawat Embongan Blora, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Blora.
Lokasi Pertunjukan : Gedung Sasana Bakti, Alon-alon Blora
Waktu Pertunjukan : 19.30 wib
Dengan rangkaian kegiatan diskusi tentang kearifan lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Blora dan BEM se-Blora.

D. Minggu, 29 Januari 2012
Bekerja sama dengan Kelompok Tani Kecamatan Cepu dan Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Cepu.
Lokasi Pertunjukan : Aula SD Sumberpitu, Cepu
Waktu Pertunjukan : 19.30 wib
Dengan rangkaian kegiatan sharing bersama petani setempat untuk praktek pembuatan insektisida organik.**--



Dengan Kepala Desa Mojowarno (Jombang) sebagai Ketua Rombongan yang mengantar KSI ke Desa (Wisata) Jono, peristiwa ini sungguh menjadi peristiwa budaya yang sangat asyik! Saya melihat ini sebagai bentuk silaturahmi budaya yang sangat bagus, di tengah-tengah kondisi masyarakat yang nyaris dipenuhi pertikaian antarkampung, perkelaihan pelajar, bentrok supporter, dan lain-lain itu.

Saking bagus dan strategisnya, menurut saya model-model seperti ini layak ditradisikan. Jika saja tradisi semacam ini bisa dibangun di antara desa-desa (antardesa) yang ada di wilayah Kabupaten Trenggalek untuk menggantikan model ”Safari Kesenian” made in Orde Baru itu, alangkah bagusnya, ya?* [bonari nabonenar/foto: Pakdhe Uban]