Rabu, 04 Januari 2012

S A N T H I Y E T

Maka ketahuilah, salah satu tanda bahwa hutan kita sudaha begitu parah adalah ketika anak-anak kita sudah tidak kenal lagi dengan “Santhiyet”. Anda bisa menjadi salah seorang penyelamat dengan cara menanam di pekarangan, di pagar atau di mana. Buahnya rasanya manis. Kambing pun begitu menyukai daunnya!

RATU THE GRIP: wahahahahahaha.. jenenge santhiyet tho... wakakakakakk.. bbrp hari lalu q juga lihat di hutan. cm g tau nama nya.. tapi q tau enak di makan.. q suka skali

ANA SEPTIANINGRUM: nggen kula nek ngarani pelikethek..amargi pliket2

WAHYU SUSILO:
Neng kampungku jenenge "konth*l jemb*ten" hehehe…

HADI UTOMO:
Wonten daerah Tegal dipun wastani "ciplukan". Kalebet taneman liar, thukul piyambak wonten pekawisan ingkang rungkut.Menawi sampun mateng werninipun jene utawi abrit nem,raosipun manis radi kecut.Panci leres,lare2 alit remen madosi.

TRI ENDAH EW:
wonten Jombang diwastani rombusa, wonten ugi ingkang mastani rembusa.

DJOKO PRAKOSA:
itu namanya buah kontholangin....dinggo tambah anyang-anyangen

NANIK AGUSTIN:
ndek bantur jenenge cimplonan,legi bnget lek wis mateng.

IIN RACHMAWATI ABAD:
Santhiet ingkang kados menika tasik wonten ing pekarangan wingking griya kula :) –omahe Watulimo, peny.

MEILASARI:
menawi ing desa kula, Genteng-Banyuwangi, menika dipun sebat "cemplukan dhor" :D

--Terima kasih kepada kawan-kawan Facebooker, yang telah sudi berkomentar. [bonari]


Selasa, 27 Desember 2011

SELAMAT TINGGAL TAHUN PENUH LUKA

seperti biasa
kita akan menutup tahun ini dengan pesta
memeriahkan kesedihan dan ketakutan
atas hari-hari penuh kecelakaan dengan penyebab utama:
keteledoran manusia
dan kita menyebutnya sebagai bencana
seperti biasa
kita akan menutup tahun ini dengan bangga
membusungkan daftar hutang dan janji-janji belum terlunasi
sejauh mata memandang panjangnya
yang seperti biasa pula kita selesaikan dengan cara seksama
dengan menggali lubang yang lebih menganga
: luka lama ditutup dengan luka baru
atau dengan tablet penghilang rasa sakit

sebab kita tak pernah benar-benar berniat membasmi
penyakit kita sendiri


selamat tinggal tahun-tahun penuh luka
dan kita sambut tahun baru
: borok baru!

sebab memang biasanya kita selalu begitu


Bonari, Desember 2010

Jumat, 21 Oktober 2011

Momentum untuk Seni Tradidional [5]


Usulan

Adalah hal yang bagus, Provinsi Jawa Timur telah menjadikan pemberian penghargaan bagi seniman terpilih sebagai tradisi tahunan, dan memberikan asuransi kesehatan kepada para senimannya. Akan lebih bagus lagi jika hal serupa dilaksanakan pula di tingkat kabupaten/kota.
Politik anggaran kesenian seharusnya dibuat lebih pro-produksi. Saya tidak memegang bukti seperti apa postur anggaran kesenian di lembaga pemerintah. Tetapi, sebagai pelaku atau orang yang bergiat di kesenian, sangat terasa bagi saya bahwa biaya promosi justru jauh lebih besar daripada (subsidi) biaya produksi-nya.

Sering terdengar seruan agar yang namanya seniman itu harus kreatif. Dengan kreativitas, krisis bisa menjadi peluang. Tetapi, kapan kita memberikan kesempatan untuk menikmati fasilitas pengembangan diri semacam studi banding ke luar negri kepada para pelaku sejati kesenian tradisional ini, dan bukan hanya kepada orang-orang yang mewakili mereka?

Jika kita menyadari semua itu dan berani mengambil langkah yang baru, sekarang ini adalah momentum yang bagus untuk kebangkitan kesenian tradisional kita.

Demikianlah beberapa catatan untuk bahan diskusi kita, yang saya buat dengan agak tergesa-gesa ini.* [selesai]



*)dibuat sebagai bahan diskusi “Eksistensi Media Tradisional di Tengah Globalisasi” Dinas Infokom dengan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK-Metra) Jatim, Rabu, 19 Oktober 2011.

Bonari Nabonenar
Lahir di Trenggalek, 1964. Menamatkan program S-1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya (1987). Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, pernah menjadi pengurus harian (Komite Sastra Dewan kesenian Jawa Timur), pernah bermain ludruk, pernah bermain jaranan. Kini tinggal di Malang, menjadi kontributor Majalah Peduli (diterbitkan/diedarkan bagi komunitas tenaga kerja asal Indonesia di Hong Kong).

Momentum untuk Seni Tradidional [4]

Potensi

Kita masih beruntung, di tengah-tengah masyarakat masih ada individu-individu maupun kelompok-kelompok seniman yang sangat militan, dan dengan segenap kemampuan mereka menjaga tradisi warisan leluhur. Mereka tidak berpikir apakah kesenian bisa menghidupi mereka atau tidak, karena mereka memang tidak mencari nafkah dari kesenimanannya. Laku kesenian bagi orang-orang seperti ini, adalah seperti olahraga yang baik bagi kesehatan, yang melengkapi hidup mereka. Dan lebih dari itu, merupakan salah satu jalan untuk menjadi orang yang bahagia di dalam hidupnya
Di kampung saya yang jauh dari ibukota kabupaten (Trenggalek) itu misalnya, ada kelompok-kelompok kesenian trebangan yang hanya mendapatkan honor tak sampai sejuta rupiah (dibagi belasan orang) untuk tampil semalam suntuk. Tetapi, mereka dengan suka-cita hangrungkebi keseniannya. Sehari-harinya, mereka bekerja sebagai petani. Begitu dari dulu. Hingga sekarang.

Pemerintah kota Surakarta juga telah menempuh cara yang baik untuk menjaga keberadaan Wayang Orang Sriwedari. Para pemain wayang orang tersebut direkrut sebagai pegawai negri. Dan karena menjadi pegawai negri adalah cita-cita banyak orang di masyarakat, lalu tumbuh kesadaran di masyarakat bahwa jika memiliki bakat dan ketrampilan bermain wayang (orang) masa depannya bukan hanya jadi ’pengamen’ melainkan boleh pula berangan-angan menjadi pegawai negri.

Di Surabaya ada kebijakan serupa terhadap pemain ludruk, tetapi tampaknya tidak konsisten seperti di Surakarta. Bahkan, Dinas Pariwisata Kota Surabaya pun tidak memiliki agenda Pementasan Ludruk kecuali, barangkali, hanya sekali atau beberapa kali dalam setahun. Sedangkan Wayang Orang Sriwedari di Surakarta (Taman Sriwedari) pentas hampir tiap malam. [bersambung]

Momentum untuk Seni Tradidional [3]

Kesenian Tradisional

Berbagai jenis kesenian tradisional kita keadaannya semakin menyedihkan. Di Surabaya, ludruk sudah hampir tamat. Untung masih cukup berjaya di Mojokerto, Jombang, dan sekitarnya. Ketoprak juga nyaris, kalau bukannya sudah: tamat. Dan sekian banyak jenis kesenian tradisional, seperti: kentrung, terbang jedhor, kuda lumping, reog, dongkrek, dan sebagainya, seolah-olah sudah tinggal serpih atau cuilan-cuilan fosil di dalam museum tanpa perawatan yang memadai. Tragisnya lagi, museum itu bernama: masyarakat pendukungnya sendiri!
Lalu, sebagian seniman (tradisional) mengatasi ketersisihan itu dengan melakukan ’inovasi’ membuat lebih banyak orang melirik dan menyukainya, tetapi tak jarang pula membuat pihak lain menyumpahinya sebagai tak lebih hanya merendahkan kualitas kesenian dan kesenimanannya hanya demi uang, hanya –meminjam istilah yang marak di kalangan masyarakat kita-- waton payu (asal laku). Jika kita saksikan di beberapa kasus, tudingan ’’waton payu’’ itu memang sangat beralasan.

Munculnya kelompok-kelompok jaranan campursari (jaranan atau seni kuda lumping yang dikemas dengan ramuan lagu-lagu campursari) adalah bukti betapa ruh ’tradisional’: sakralitas, kewibawaan, hilang dari jaranan. Kegelisahan semacam itu bahkan terjadi pula di kalangan pecinta seni pedhalangan (wayang kulit) ketika untuk merebut perhatian penonton banyak dalang melakukan ’terobosan’ yang kebablas sampai pada wilayah sensualitas yang vulgar, atau terlalu banyak menampilkan pelawak yang mengeskploitasi keseronokan atau ’kelemahan fisik’ untuk bahan lawakan-lawakan yang dangkal. Pada tahap ini, tontonan yang seharusnya sekaligus menjadi tuntunan nyaris hilang.

Dalam situasi seperti itu, adalah sangat tidak adil jika kita hanya menuding senimannya. Dan itu hanya aan menambah perlakuan tidak adil terhadap para seniman tradisional itu. Mereka, para seniman tradisional di desa-desa, di kota-kota kecil, sering dikerahkan untuk bekerjabakti untuk memeriahkan hari-hari besar nasional seperti Agustusan. Tetapi, giliran kabupaten/kota atau provinsi berulangtahun atau punya hajat dengan anggaran besar, yang ditampilkan adalah seniman-seniman paling ngetop dengan honor selangit, dari desa lain, kabupaten/kota lain, dari provinsi lain.

Pemerintah melalui kementerian/dinas terkait sering menyelenggarakan kegiatan untuk ’mengangkat’ kesenian tradisional, misalnya dalam format festival, dengan membawa mereka ke etalase-etalase yang sepi. Menyelenggarakan festival Ludruk di tengah Kota Surabaya, adalah tindakan yang kurang tepat, mengingat kesenian ini sekarang tumbuh di pinggiran kota, terutama di wilayah Mojokerto dan Jombang.

Akibatnya, ketika ludruk dikemas sebagai tontonan indoor, di dalam gedung (Cak Durasim, misalnya) ia sering sepi penonton. Lalu para pengamat berteriak, ’’Ludruk sudah tidak disukai lagi!’’ Dan ketika teriakan itu dimuat di koran dan ditayangkan televisi, serta-merta menjelma mantra kutukan, menyugesti masyarakat bahwa Ludruk tidak populer lagi, dan lebih-lebih: tidak bergengsi.

Pada tataran konsep pemberdayaan, sering juga terjadi ’’salah kaprah’’ ketika seniman (bukan hanya seniman tradisional) mengajukan permontaan bantuan kepada Bupati atau Walikota, untuk berproduksi atau menghadiri kegiatan-kegiatan inspiratif di kota lain, pulau lain, atau bahkan negara lain, dana bantuan lalu dicairkan melalui Biro Kesra.

Kesannya kemudian, seniman itu seperti dipandang sebagai fakir miskin atau korban bencana alam. Boleh saja hal seperti ini tidak terlalu dipersoalkan. Tetapi, harus diingat bahwa suka atau tidak suka, itulah gambaran ’ketidakjelasan’ yang diberikan kepada masyarakat oleh Pemerintah melalui birokrasinya.

Penggilasan terhadap kesenian tradisional juga nyata-nyata didukung oleh Regulasi yang memperbolehkan perusahaan-perusahaan memberikan hadiah "kejutan" hingga ratusan juta, bahkan milyaran rupiah kepada orang-orang yang tidak (perlu) berprestasi, cukup dengan hanya menjadi konsumen yang setia. Karena itu kita sering melihat seniman tradisional tetap miskin hingga akhir hayat, sementara di sekitar mereka banyak orang mendadak kaya hanya karena memenangkan lomba egolan yang diseponsori perusahaan besar. [bersambung]

Momentum untuk Seni Tradidional [2]

Titik Balik Kesadaran

Kabar gembiranya adalah, sekarang ini menguat tanda-tanda kesadaran untuk semakin menghargai hal-hal yang bersifat tradisional. Di bidang pertanian, semakin tumbuh kesadaran bahwa pertanian organik adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup yang baik. Mengbonsumsi beras organik, misalnya, adalah lebih sehat dibandingkan dengan mengonsumsi beras nonorganik. Dengan kesadaran sedemikian, pasar pun terbangun, sehingga hasil panen pertanian organik dihargai jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang nonorganik.
Lihatlah pula di kota-kota besar bermunculan rumah-rumah makan dengan bangunan dan setting tradisional, dengan menu-menu tradisional. Bahkan, kita bisa menyaksikan yang terang-terangan memakai nama ’’Dapur Desa’’. Itu nama yang langsung berasosiasi dengan tradisionalisme. Walau masih pada taraf ’’kembali tumbuh’’ itu sudah merupakan kabar baik.

Komuitas-komunitas ’pembela tradisionalisme’ pun tumbuh di mana-mana, dari yang bernama Paguyuban Macapatan hingga ’’Kelompok Studi’’. Dari yang berupa organisasi tanpa bentuk hingga yang mengukuhkan diri sebagai lembaga resmi (nonpemerintah). Dari yang berbasis pertemuan langsung di kampung-kampung hingga yang berbasis jejaring sosial di ’’dunia maya’’. Sayangnya, sebagian besar di antaranya tampak sebagai hanya bertahan, sekadar mengabarkan keberadaan dan bertekad ’’nguri-uri’’ kebudayaan tradisional, dan belum sampai pada tahap ’melawan’ apa yang di sini kita sebut sebagai gempuran Globalisasi itu. Mereka adalah potensi yang sangat bagus sebagai semacam barisan ’’Pertahanan Rakyat Semesta’’ untuk membela kebudayaan tradisional kita.

Sayangnya, lebih banyak di antara komunitas-komunitas itu adalah komunitas-komunitas ’’klangenan.’’ Ibarat orang memelihara burung, tidak tampak upaya sungguh-sungguh untuk membudidayakan, menangkarkan, melainkan cukup puas hanya dengan mendengar kicauan (seekor) burung kesayangan di sangkar yang sempit itu. Padahal, Globalisasi menggilas kita dengan hasil produksi. Seharusnya kita melawannya juga dengan ’berproduksi.’ [bersambung]